
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi sebuah organisasi rakyat untuk berdiri, dipukul, dijatuhkan, lalu bangkit kembali. Satu dekade sudah KPBI berdiri kokoh sebagai Rumah Besar Perjuangan Buruh di Indonesia.
Dari Sabang sampai Merauke, dari lantai pabrik hingga areal perkebunan, KPBI hadir. Di ujung utara Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Pasangkayu, kami berdiri: SBTP RTL – KPBI Sulbar.
Sebagai buruh PT RTL, kami merasakan langsung pahitnya penindasan. Upah kami dipotong hingga sekitar 40% dari ketentuan UMK yang seharusnya. Hak-hak kami dirampas dengan dalih efisiensi. Perut lapar, keluarga di rumah menunggu, tetapi gaji tidak pernah diterima secara utuh.
Di titik paling gelap itulah kami menemukan sebuah tempat bersandar: KPBI.
Kami mungkin belum pernah bertatap muka secara langsung dengan para pengurus di tingkat nasional. Namun, kami disatukan oleh satu ideologi yang sama: buruh bersatu takkan bisa dikalahkan. Kami disatukan oleh solidaritas organik yang melampaui sekat-sekat formalitas.
Kami bersaksi, ada Ketum Ilhamsyah, yang akrab kami sapa Bung Boing, dengan sabar terus menelepon dan mengarahkan langkah kami. Ada Bung Bire dan Bung Zidan, yang dedikasinya tidak pernah setengah-setengah dalam mendampingi kami. Mereka menemani kami menyusun tuntutan, mendampingi perundingan, hingga berdiri bersama kala intimidasi datang melanda. Mereka mengajari kami bahwa melawan tidak harus berteriak paling keras, melainkan harus dikerjakan dengan paling terorganisir.
Berkat KPBI, kami berani menuntut hak. Berkat KPBI, kami paham bahwa pemotongan upah sebesar 40% bukanlah sekadar kebijakan perusahaan, melainkan sebuah kejahatan. Berkat KPBI, kami tidak lagi berjalan sendirian; kami berjalan sebagai sebuah kelas pekerja.
Selama sepuluh tahun ini, KPBI membuktikan diri bahwa mereka bukan sekadar alat perjuangan. KPBI adalah sebuah rumah—tempat bagi buruh yang diusir dari pabriknya untuk bisa pulang, tempat bagi buruh yang dibungkam untuk belajar bersuara, dan tempat bagi buruh yang ketakutan untuk belajar melawan.
Kami, SBTP RTL Pasangkayu, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih atas kesabaran, terima kasih atas ilmu yang dibagikan, dan terima kasih karena tidak pernah meninggalkan kami meski berada jauh di pelosok negeri.
Harapan kami ke depan sederhana: semoga KPBI semakin berjaya. Semoga sayap perjuangan KPBI terus melebarkan diri ke seluruh pelosok Nusantara. Semoga kesadaran kaum buruh terus menggelora, dari kota hingga desa, dari pabrik-pabrik besar hingga kebun-kebun sawit.
Sebab, selama penindasan masih ada, selama itu pula KPBI harus ada. Dan selama masih ada buruh yang tertindas, selama itu pula KPBI akan selalu menjadi rumahnya.
Tumbuh subur, KPBI!
Tetaplah menjadi rumah bagi seluruh buruh se-Nusantara!
Hidup Buruh!
KPBI
BANGKIT, LAWAN, HANCURKAN TIRANI!
Get The Union Briefing
One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.
Subscribe