KARAWANG, BURUH.NET — Serikat Pekerja Tani Karawang (SEPETAK) secara resmi membuka rangkaian perhelatan akbar Kongres V SEPETAK. Mengusung semangat perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik, kongres ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi serta merajut aliansi strategis antara kaum buruh dan petani di pedesaan maupun perkotaan.
Dalam pidato pembukanya, Ketua Umum KPBI (Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia), Ilhamsyah, menegaskan bahwa kerja sama antara buruh dan petani bukanlah sebuah gagasan yang baru. Menurutnya, ikatan perjuangan ini lahir dari akar yang sama: rakyat yang selama ini menjadi korban ketidakadilan struktural dan kebijakan ekonomi yang menindas.
“Kerja sama perjuangan antar sesama rakyat yang merasakan ketidakadilan akibat sistem selama ini adalah upaya terus-menerus yang selalu dilakukan oleh organisasi-organisasi kerakyatan,” tegas Ilhamsyah di hadapan ratusan peserta kongres dan kader serikat.
Undang-Undang Hanya Pajangan Tanpa Gerakan Rakyat
Lebih lanjut, Ilhamsyah menyoroti bahwa berbagai regulasi formal—mulai dari undang-undang pengaturan reforma agraria hingga regulasi perlindungan ketenagakerjaan—tidak akan pernah menjadi instrumen penyelamatan yang nyata jika rakyat hanya memilih diam.

- “Undang-undang reforma agraria dan undang-undang perlindungan ketenagakerjaan hanya akan menjadi catatan di atas kertas, tidak akan terlaksana, kalau seandainya rakyatnya juga ikut diam dan membiarkan,” ujarnya dengan nada berapi-api.
Oleh karena itu, penguatan organisasi rakyat, pembangunan kesadaran kritis, serta perluasan perspektif tentang keadilan sosial menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
Harapan Baru untuk Kaum Muda dan Desa
Kongres V SEPETAK tidak hanya merefleksikan persoalan struktural masa lalu, tetapi juga merumuskan visi masa depan. Organisasi didorong untuk terus mengawal industrialisasi dan mekanisasi di sektor pertanian agar mampu memberikan penghidupan yang layak serta menjadi daya tarik dan harapan hidup bagi kaum muda ke depan.
Acara yang turut dihadiri oleh berbagai aliansi gerakan rakyat, perwakilan organisasi buruh, serta suguhan kebudayaan lokal ini diharapkan mampu melahirkan agenda perjuangan yang lebih kokoh.

- “Semoga konsolidasi dalam bentuk kongres ini bisa melahirkan agenda perjuangan yang lebih baik, melahirkan kepemimpinan yang lebih kuat, sehingga cahaya baru di pedesaan ini terus tumbuh dan menyala,” pungkas Ilhamsyah menutup pidatonya.
Melalui Kongres ke-V ini, SEPETAK kembali membuktikan bahwa perlawanan kolektif kaum buruh dan tani adalah kunci utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan, keadilan agraria, dan kesejahteraan sejati bagi rakyat Indonesia.
Get The Union Briefing
One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.
Subscribe