Oleh: Jeny Aristiawaty
KPBI menurut saya pribadi bukan sekadar nama organisasi, bukan sekadar gabungan kata di atas kertas, bukan sekadar lambang atau bendera yang dikibarkan. Ia adalah rumah,rumah bagi para buruh dan kelas pekerja untuk berjuang, rumah tempat kita berkumpul, saling mendengar, dan bersama-sama memperjuangkan hak-hak kita di tempat kerja. KPBI adalah rumah kedua bagi kaum buruh, tempat di mana suara yang selama ini dibungkam akhirnya dapat terdengar, tempat di mana rasa sakit yang selama ini dipendam akhirnya dapat disampaikan, tempat di mana kita sadar bahwa kita tidak sendirian.
KPBI lahir dari suara buruh, lahir dari keringat yang menetes satu per satu di lantai pabrik dan perusahaan. Lahir dari rasa sakit yang dirasakan tubuh kita yang dipakai bekerja siang dan malam demi nafkah keluarga, tubuh yang sering diabaikan, tidak dihargai, bahkan dianggap hanya sebagai alat untuk menghasilkan keuntungan bagi pihak lain. Lahir dari ketakutan yang setiap hari dihadapi para pekerja: ketakutan kehilangan pekerjaan, ketakutan sakit tidak diobati, ketakutan tidak bisa memberi makan anak-anak kita, ketakutan bahwa kesehatan kita akan dikorbankan demi target produksi yang terus dikejar tanpa henti.
Saya, Jeny, adalah salah satu dari jutaan buruh perempuan di negeri ini. Saya bukan orang yang istimewa, saya bukan orang kaya, saya bukan penguasa. Saya hanyalah seorang ibu, seorang istri, dan seorang pekerja, yang benar-benar merasakan setiap hari perjuangan berat yang dialami oleh buruh perempuan di seluruh penjuru Indonesia. Saya merasakan bagaimana rasanya bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan keperluan rumah tangga, lalu berangkat bekerja untuk membantu suami mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga. Bekerja di pabrik perikanan, berdiri berjam-jam tanpa henti, di ruangan yang selalu dingin, di lantai yang licin dan berbahaya, di mana keselamatan dan kesehatan kerja belum memenuhi standar undang-undang yang seharusnya melindungi kita. Upah yang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, lembur yang tidak dibayar sebagaimana mestinya,karena bekerja berdasarkan sistem borongan hasil yang selalu menekan kita untuk bekerja lebih cepat, lebih lama, tanpa peduli seberapa lelah tubuh ini.
Bagaimana kita bisa menyebut hidup ini sejahtera jika setiap tetes keringat kita saja belum dihargai dengan layak? Bagaimana kita bisa bicara kesejahteraan jika tenaga yang kita berikan setiap hari hanya menjadi keuntungan bagi orang lain, sementara kita sendiri tetap hidup dalam kekhawatiran besok bisa kehilangan pekerjaan, sakit tidak punya biaya berobat, dan anak-anak kita belum tentu bisa hidup lebih baik dari kita?
Saya adalah ibu dari tujuh anak. Tujuh nyawa yang telah Allah titipkan kepada saya, dan saya berjuang setiap hari untuk membesarkan mereka dengan baik. Namun, perjalanan ini tidak mudah; tidak semua anak saya dapat tumbuh besar bersama saya. Dua di antaranya tidak sempat merasakan dunia ini lebih lama,namun Alhamdulillah, lima anak saya,anak pertama, kedua, ketiga, keenam, dan ketujuh, tumbuh bersama saya, menjadi kekuatan dan semangat hidup saya setiap hari. Anak keempat lahir prematur di usia kandungan delapan bulan, Tubuhnya masih sangat kecil dan lemah, hanya bertahan tiga hari di inkubator rumah sakit sebelum kembali ke pangkuan Allah.
Kemudian, anak kelima mengalami keguguran pada usia kandungan tiga bulan. Saat itu saya terus bertanya pada diri sendiri: mengapa ini terjadi? Mungkin karena kelelahan bekerja, berdiri berjam-jam di tempat yang dingin dan lembap, sementara tempat kerja hanya memberi waktu istirahat sakit dua hingga tiga hari. Saya tidak punya pilihan, tidak bisa berhenti bekerja; keluarga saya butuh makan. Saya hanya bermodal minum jamu, tidak sempat periksa ke rumah sakit atau bidan,terkendala biaya dan waktu yang sangat terbatas. Hanya dua hari beristirahat di rumah setelah keguguran, lalu dengan hati yang masih sakit dan tubuh yang belum pulih, saya kembali bekerja. Karena jika saya tidak bekerja, siapa yang akan memberi makan anak-anak saya?
Kesejahteraan bukan hanya soal uang. Bukan hanya soal berapa rupiah yang kita terima di akhir bulan. Kesejahteraan adalah kesehatan tubuh yang perlu kita jaga, adalah waktu beristirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga, adalah rasa aman bagi diri kita dan anak-anak kita,rasa aman bahwa jika kita sakit, ada yang menjamin; jika kita tua, ada yang melindungi; jika kita bekerja, tenaga kita dihargai bukan hanya dengan uang, tapi juga dengan rasa hormat sebagai manusia. Kesejahteraan sejati adalah ketika kita tidak lagi harus memilih antara bekerja dan menjaga kesehatan, antara memberi makan keluarga dan merawat diri sendiri.
Dua tahun kemudian, saya hamil anak keenam. Di sinilah saya sangat kecewa dengan tempat kerja saya, PT Wahyu Pradana Binamulia, tempat saya bekerja lebih dari tiga tahun dengan penuh kesetiaan dan ketekunan. Saat hamil tiga bulan, saya sering merasa mual dan lelah, kadang meminta izin dua atau tiga hari untuk periksa ke bidan dan beristirahat agar kandungan saya tetap sehat. Bukannya diberi keringanan tugas atau dihormati hak cuti hamil yang memang menjadi hak saya, pengawas lapangan malah menyuruh saya berhenti bekerja sampai melahirkan,alasannya saya “suka minta izin sakit”. Saat itu, tahun 2021, saya belum mengenal apa itu serikat buruh, belum tahu bahwa ada undang-undang yang melindungi perempuan pekerja, belum tahu bahwa saya punya hak untuk beristirahat dan dilindungi. Saya merasa sendirian, merasa tidak berdaya, seolah nasib saya hanya ditentukan oleh kebijakan perusahaan yang tidak memihak kepada kami.
Namun Allah itu Maha Baik. Dari rasa sakit dan ketidakadilan itu, perlahan tumbuh kesadaran. Pada 5 Desember 2022, teman-teman di PT Wahyu mulai sadar bahwa kita tidak bisa terus diam, bahwa jika kita bersatu, suara kita akan lebih kuat. Kami mulai membangun serikat bernama PSBM (Persatuan Serikat Buruh Makassar). Suami saya juga ikut berjuang membangunnya dari nol. Awalnya hanya lima orang, lima orang yang berani berbicara, berani berdiri, berani berkata “cukup”. Dan Alhamdulillah, seiring waktu, anggota PSBM bertambah hingga seratus tiga belas orang di PT Wahyu saja,seratus tiga belas saudara yang akhirnya sadar bahwa nasib kita sama, dan perjuangan kita pun satu.
Namun, jalan perjuangan tidak pernah mulus. Dua tahun kemudian, suami saya di-PHK, satu hari sebelum bulan suci Ramadan, saat semua orang sedang bersiap untuk hari raya, saat keluarga paling butuh uang untuk makan dan kebutuhan. Saat itu saya sedang hamil anak ketujuh, saat sangat membutuhkan biaya persiapan melahirkan dan membesarkan anak-anak. Rasanya dunia seakan runtuh.Tapi justru di saat itulah saya semakin paham: ketidakadilan ini bukan kebetulan, bukan kesalahan pribadi kami, melainkan sistem yang memang dibuat untuk menindas kelas pekerja,dan karena itulah kita harus bersatu.
Tahun 2024 saya resmi bergabung di PSBM dan mulai mengenal KPBI. Semakin saya belajar, semakin saya paham bahwa perjuangan kami bukan sekadar untuk satu orang, satu pabrik, atau satu kota,tapi untuk seluruh kelas pekerja di Indonesia. Tahun 2025 saya ditunjuk menjadi pengurus di Departemen Ekonomi. Saya mulai mengenal FSBPI melalui program FF, terus belajar dan terus berkembang setiap hari. Di dalam organisasi, kita belajar banyak hal: tentang undang-undang ketenagakerjaan yang melindungi kita, tentang hak-hak buruh yang sering disembunyikan, tentang arti persatuan dan arti perjuangan yang sesungguhnya. Bahkan orang yang selama ini dianggap hanya ibu rumah tangga dan buruh biasa pun bisa mengerti hukum, bisa berbicara di depan orang banyak, bisa menjadi pelindung bagi sesama pekerja. Tahun 2026, saya dipercaya menjadi Koordinator Posko Pembelaan dan Perlindungan Buruh Perempuan,sebuah amanah besar yang akan saya jalani dengan sepenuh hati, untuk seluruh perempuan buruh yang suaranya belum didengar.
“Persatuan adalah kekuatan.” Kalimat ini bukan sekadar slogan. Ia adalah kebenaran yang saya rasakan sendiri. Selama kita terpisah, kita mudah dipecat, mudah diabaikan, mudah ditindas. Tapi ketika kita bersatu,serikat buruh, perempuan laki-laki, pabrik satu dan pabrik lain,kita menjadi kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Perjuangan masih panjang. Jalan belum rata. Aturan masih banyak yang berpihak pada perusahaan, bukan pada pekerja yang menciptakan kekayaan itu sendiri. Teknologi dan kecerdasan buatan mulai masuk ke tempat kerja, menggantikan tenaga kita, dan sering kali justru memperburuk kondisi buruh,upah makin rendah, jam kerja makin panjang, ketidakpastian makin besar. Namun kita tidak boleh takut. Kita harus semakin kuat, semakin bersatu, semakin cerdas memahami perubahan zaman ini.
Kesejahteraan sejati itu ada di depan mata. Ia bukan hadiah yang akan diberikan oleh pemilik modal atau penguasa. Ia adalah sesuatu yang harus kita raih dengan tangan kita sendiri,bukan dengan memohon, bukan dengan menunggu belas kasih, tapi dengan bersatu, dengan berjuang bersama, dengan tidak pernah menyerah memperjuangkan apa yang menjadi hak kita. Kesejahteraan sejati adalah ketika setiap buruh laki-laki dan perempuan bisa bekerja dengan tenang, pulang dengan tubuh yang sehat, bertemu anak-anak dengan wajah yang tersenyum, dan tidur dengan perasaan aman,bahwa esok hari masih ada harapan.
PSBM — Cerdas, Militan, Bersatu!
FSBPI — Bekerja, Belajar, Berjuang!
KPBI – Bangkit,Lawan,Hancurkan Tirani
Makassar, Senin, 14 September 2026
Get The Union Briefing
One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.
Subscribe