Jumisih – Biro Politik Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia – KPBI
Delapan tahun lalu, Jeny mulai merasakan nyeri pinggang dan kram di kaki. Ia tidak langsung ke dokter. Ia sibuk bekerja. “Pertama kali merasakan sakit nyeri pinggang dan kaki kram 8 tahun yang lalu, dan hanya fokus bekerja saja. Tidak ada waktu untuk terlalu memikirkan rasa sakit,” ujar Jeny mantan buruh PT Wahyu – Sulawesi Selatan. Kalimat itu sederhana, tetapi di situlah persoalan bermula.
Bagi banyak buruh perempuan, sakit bukan selalu alasan untuk berhenti. Sakit sering menjadi sesuatu yang harus ditahan, nyeri dianggap akibat terlalu lama berdiri, kaki kram mungkin karena tempat kerja dingin. Badan lelah mungkin karena pekerjaannya berat. Selama masih bisa berdiri, masih bisa bekerja, masih bisa pulang dan mengurus rumah, maka tubuh dianggap baik-baik saja. Sampai suatu hari tubuh benar-benar tidak bisa lagi diajak berkompromi.

Bagian Tengah: Pekerja Pabrik Uralmash, 1934 (Lukisan Realisme Sosialis Yuri Pimenov )
Jeny mengalami perjalanan panjang sampai akhirnya tahu ada kista berukuran 12 sentimeter di tubuhnya. Sementara Novi mengidap kanker ganas payudara. Penyakit membuatnya berhenti bekerja, kehilangan pendapatan, dan harus membiayai pengobatan yang tidak sedikit. Dua perempuan, dua pengalaman, tapi ceritanya sama: tubuh perempuan pekerja sering mendapat perhatian terakhir. Padahal, tubuh itulah yang bertahun-tahun bekerja, melahirkan, mengurus anak, mengurus rumah, menghidupi keluarga, dan bahkan ikut mengurus organisasi. Barangkali sudah waktunya kita bertanya: sampai kapan tubuh perempuan harus dipaksa selalu kuat?
Ketika sakit dianggap biasa
Jeny merasakan nyeri pinggang dan kram kaki sekitar delapan tahun lalu. Empat tahun kemudian, saat hamil anak keenam, rasa sakit muncul lebih hebat saat usia kehamilan delapan bulan. Nyeri luar biasa pada perut bagian bawah ini, dirasa seperti hendak melahirkan tapi tidak juga melahirkan. Kaki kram, tubuh berkeringat dingin. Rasa sakit itu berlangsung selama sekitar tiga minggu.

Jeny mantan buruh PT Wahyu – Sulawesi Selatan (Foto: Jumisih)
Ia kemudian diminta beristirahat total. Pemeriksaan dilakukan ke bidan, mendapat obat pereda nyeri, penguat kandungan, dan vitamin. Setelah beberapa waktu, rasa sakit mereda. Jeny melahirkan secara normal. Enam bulan kemudian, Jeny bekerja kembali. Tubuhnya belum benar-benar selesai dengan sakitnya. Kadang nyeri masih terasa, kaki masih kram. Tapi ia mencoba menjelaskan ke tubuhnya; mungkin karena lama berdiri, mungkin karena tempat kerja dingin, mungkin karena memang tubuh sedang lelah, mungkin, dan mungkin lainnya.
Dua tahun kemudian, Jeny hamil anak ketujuh. Kejadian serupa terulang saat usia kehamilan delapan bulan. Lagi-lagi berlangsung sekitar tiga minggu. Lalu ia memeriksakan diri kembali dan mendapatkan obat, hingga akhirnya melahirkan, dan bekerja kembali. Siklus ini seperti tidak berhenti yaitu sakit, berobat, sedikit membaik, bekerja lagi. Sampai akhirnya tubuh memberikan sinyal yang darurat.
Setelah melahirkan anak ketujuh, haid Jeny tidak teratur. Sepuluh bulan setelah melahirkan, ia baru haid pertama berupa bercak darah. Ia mencoba minum teh rimpang, darah keluar sangat banyak, disertai gumpalan. Keluhan Jeny berulang, pernah diperiksa dan dinyatakan mengalami infeksi saluran kencing. Diberi obat, membaik, lalu kembali bekerja. Enam bulan kemudian sakit datang lagi. Kembali diperiksa lagi, kembali disebut sebagai infeksi saluran kencing, kembali diberi obat. Setelah itu ia bekerja seperti biasa.
Sampai setahun kemudian sakit datang lebih parah. Setiap bulan selama tiga hari, dan berlangsung sekitar enam bulan. Barulah Jeny memeriksakan diri ke Puskesmas dengan BPJS KIS dan dirujuk ke dokter spesialis kandungan untuk menjalani USG (Ultrasonografi) yaitu proses pemeriksaan medis dengan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menampilkan citra atau gambar dari organ dan jaringan dalam tubuh. USG menemukan sesuatu yang berbeda. Ada kista berukuran 12 sentimeter. Tubuh yang selama bertahun-tahun ia ajak bekerja ternyata sedang dalam keadaan bahaya.
Perempuan sering kali baru berhenti ketika tubuh memaksa
Cerita Jeny meninggalkan tanya: mengapa ia butuh waktu sangat panjang untuk mendapat pemeriksaan menyeluruh? Jawabannya tidak sesederhana “karena ia tidak menjaga kesehatan”. Pengalamannya memperlihatkan bahwa ada banyak hal yang dipikirkan dan membuat dirinya menunda. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, penghasilan yang harus dijaga, anak yang mesti diurus, aktivitas rumah yang harus tetap jalan, dan lain-lain. Jangan lupa, ada keyakinan yang begitu lama tertanam di kepala perempuan: kalau masih bisa bekerja, berarti belum terlalu sakit. Tentu ini pemikiran yang tidak sepenuhnya benar.

Jendela Musim Semi, 1948 (Lukisan Realisme Sosialis Yuri Pimenov )
Jeny mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya rasa sakit. “Sebagai buruh, saya harus memikirkan jadwal berobat dan khawatir jika sering absen, berpengaruh pada penghasilan.”
Kalimat ini penting, karena bagi buruh, sakit bukan hanya persoalan kesehatan. Sakit juga bisa berarti persoalan ekonomi. Ketika harus berobat, ada waktu kerja yang hilang. Ketika harus opname, ada penghasilan yang sangat mungkin berkurang. Mengingat Jeny adalah buruh kontrak. Ketika harus menjalani pemeriksaan berulang, ada ongkos perjalanan dan ketika penyakit membuat kita tidak lagi mampu bekerja, persoalannya bisa menjadi jauh lebih berat dan dalam.
Jeny akhirnya memutuskan berhenti bekerja agar fokus untuk sehat. Tapi berhenti bekerja tidak berarti semua beban ikut berhenti. Ia masihlah seorang ibu. “Sebagai ibu dari 5 anak, saya harus mengatur siapa yang menjaga anak-anak saat berobat? Saya sering menunda makan atau istirahat demi menyiapkan kebutuhan rumah dulu,” ujar Jeny.
Bahkan dalam keadaan sakit, ia masih memikirkan kebutuhan rumah. Barangkali kalimat itu terdengar biasa bagi banyak perempuan. Tetapi justru karena terlalu biasa, kita sering lupa bahwa itu berbuntut masalah.
Ada rasa bersalah yang ikut sakit
Jeny bercerita tentang sesuatu yang tidak terlihat dalam hasil laboratorium atau foto USG: rasa bersalah. Ia merasa tidak enak ketika harus meninggalkan pekerjaan. Ia merasa tidak nyaman ketika urusan rumah belum beres. Bahkan ketika tubuhnya membutuhkan perhatian, pikirannya masih berkeliling pada kebutuhan orang lain. “Seringkali kesehatan diri sendiri justru menjadi hal terakhir yang saya perhatikan” ungkapnya. Kemudian ia mengatakan sesuatu yang sederhana tetapi sangat menggambarkan kehidupan banyak perempuan: “Kadang lupa sarapan, baru makan siang pukul 12 atau jam 1 siang.”

Menunggu 1959 (Lukisan Realisme Sosialis Yuri Pimenov )
Tubuh buruh perempuan ternyata bukan hanya menghadapi risiko dari tempat kerja. Ia juga menghadapi beban ganda berlapis. Di tempat kerja harus produktif, di rumah harus mengurus keluarga, sebagai ibu harus hadir, sebagai pasangan harus memenuhi harapan, dan sebagai perempuan sering dituntut untuk tetap terlihat kuat.
Lalu kapan kita boleh menjadi lelah?
Kapan kita boleh mengatakan, “Aku sakit”?
Kapan kita boleh berkata, “Hari ini aku tidak sanggup?”
Novi: ketika sakit berarti kehilangan pekerjaan
Jika Jeny bercerita tentang bagaimana ia menunda dan mengabaikan tubuh karena banyak tanggung jawab, pengalaman Novi memperlihatkan sisi lain: ketika tubuh sudah tidak mampu lagi bekerja, persoalan kesehatan bisa berubah menjadi persoalan keberlangsungan hidup.

Novi mantan buruh PT Medisafe – Sumatera Utara (Foto: Jumisih)
Ketika ditanya apa yang paling berat selama menjalani pemeriksaan dan pengobatan, jawaban Novi hanya satu kata: “Keuangan.” Pendek, tetapi rasanya cukup menjelaskan sesuatu yang kompleks. Novi sudah sekitar tiga tahun tidak bekerja di pabrik karena ia buruh borongan. Ia sempat mencoba bekerja di laundry dengan penghasilan satu juta rupiah per bulan. Pagi hari ia juga bekerja sebagai PRT (Pekerja Rumah Tangga), dengan penghasilan delapan ratus ribu rupiah per bulan. Ia menjalani dua pekerjaan: pagi bekerja sebagai PRT, siang sampai malam bekerja di laundry. Sampai akhirnya tubuhnya mulai menurun. “Karena sudah mulai ngedrop fisikku aku resign” Ujar Novi.
Ada yang menyakitkan dari kalimat itu. Seorang buruh tidak berhenti bekerja karena tidak ingin bekerja. Ia berhenti karena tubuhnya tidak lagi memungkinkan untuk bekerja. Namun, kebutuhan hidup tidak ikut berhenti. Anak-anak tetap butuh makan, rumah tetap membutuhkan biaya, pengobatan tetap berjalan, dan obat harus tetap ditebus.
Novi bercerita bahwa obat yang diberikan cukup keras efeknya. Ia mengalami lemas, mudah lelah, mual dan muntah. Ia bahkan sampai tidak bisa jogging karena efek obat. Sementara pemeriksaan dan pengobatan harus dijalani seminggu sekali, dan minum obat lagi, dan lagi. Ketika biaya berobat ditanyakan, ia tertawa kecil. Tetapi di balik candaan itu ada realitas yang tidak ringan. Biaya obat tetap terasa mahal baginya dengan dua ratus hingga tiga ratus ribu seminggu. Meskipun dokter tidak memungut biaya konsultasi. Sakit, bagi keluarga buruh, memang tidak pernah hanya soal penyakit.
Sakit menjadi persoalan kelas. Tubuh yang sakit bisa kehilangan pekerjaan; kehilangan pekerjaan berarti kehilangan penghasilan; sementara penyakit justru membutuhkan biaya. Lingkaran ini membuat buruh perempuan seperti Novi dalam posisi sangat rentan. Ia harus menyembuhkan tubuhnya sekaligus memikirkan bagaimana kehidupannya tetap bertahan.
Tubuh perempuan dan pertanyaan tentang KB
Di titik ini, cerita Jeny dan Novi membawa kita pada satu isu penting sekaligus sensitif: kontrasepsi atau KB. Jeny menggunakan KB implan setelah melahirkan anak ketujuh. Sebelumnya, ia mendapat informasi bahwa haid yang jarang atau hanya berupa bercak dapat terjadi ketika menggunakan KB tersebut. Setelah itu, ia mengalami perubahan pola haid dan berbagai keluhan kesehatan.
Hingga kemudian, dokter mengatakan bahwa kondisi tubuhnya juga dipengaruhi oleh penggunaan KB implan. Jeny merasa informasi yang ia terima sebelumnya belum cukup komprehensif. Pengalaman ini perlu didengarkan. Tetapi pengalaman tidak boleh langsung kita ubah menjadi kesimpulan medis bahwa KB tertentu pasti menyebabkan kista atau penyakit tertentu. Hubungan antara kontrasepsi, perubahan hormon, pola haid, dan berbagai kondisi kesehatan reproduksi tentu perlu dijelaskan berdasarkan bukti medis yang benar.
Justru itu, pertanyaan pentingnya adalah: Seberapa lengkap informasi diterima perempuan sebelum memilih kontrasepsi? Apakah cukup diberitahu manfaatnya? Apakah juga diberi tahu kemungkinan efek samping dan perubahan yang mungkin terjadi pada tubuh? Apakah tahu kapan harus kembali berkonsultasi? Apakah keputusan menggunakan kontrasepsi benar-benar keputusan yang dibuat perempuan dengan pengetahuan yang cukup? Jeny berharap persoalan ini menjadi perhatian.
“Kami perempuan sering hanya diberitahu manfaat KB, tapi jarang sekali mendapat penjelasan lengkap mengenai risiko efek samping atau cara memantau kesehatan tubuh saat memakainya.”
Kalimat itu bukan berarti kita harus takut terhadap KB. Justru sebaliknya. Perempuan berhak mendapatkan informasi yang lengkap agar dapat mengambil keputusan yang sadar tentang tubuhnya sendiri.
Bahkan KB pun bisa menjadi persoalan relasi kuasa
Novi membawa pengalaman lebih jauh. Semua jenis KB sudah ia coba. Januari 2025 KB implant, Agustus 2025 tumbuh benjolan. Januari 2026 KB IUD (Intrauterine Device) atau spiral yaitu alat kontrasepsi berukuran kecil berbentuk huruf “T” yang dipasang dalam rahim untuk mencegah kehamilan. Betapa tubuh Perempuan menjadi sasaran alat kontrasepsi.
Kontrasepsi selama ini sangat dilekatkan pada perempuan. Tubuh perempuan yang mesti menerima pil, suntikan, implan, atau alat kontrasepsi lain. Perempuan pula yang “sering dianggap” harus bertanggung jawab untuk mencegah kehamilan.
Padahal keputusan reproduksi seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Dalam pengalaman Novi, persoalan bahkan lebih jauh. Ia pernah bercerita bahwa suaminya tidak mengizinkannya melakukan biopsi, yaitu prosedur medis dengan mengambil sampel jaringan, sel, atau cairan dari tubuh untuk diperiksa di laboratorium guna menegakkan diagnosa yang akurat, apakah ada infeksi, peradangan, atau ada sel yang jinak atau ganas.
Di sinilah, kita menarik nafas Panjang. Kesehatan reproduksi perempuan bertemu dengan relasi kuasa di rumah tangga. Siapa yang berhak menentukan pemeriksaan terhadap tubuh perempuan? Siapa yang memutuskan pengobatan? Siapa yang memiliki suara paling besar ketika perempuan sakit? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab. Tetapi justru karena sulit, kita perlu membicarakannya.
“Sayangi dirimu melebihi bagaimana engkau menyayangi orang lain”
Ini jawaban Novi, ketika ditanya apa yang mesti dilakukan perempuan agar tetap sehat.
Jawaban Novi terasa seperti perlawanan atas kebiasaan hidup yang selama ini dianggap normal. “Lebih perhatian ke diri sendiri.” Lalu ia memberi nasihat yang mungkin terdengar sederhana: “Olahraga, olah stress, dan jajan kesukaanmu. Dengarkan lagu favorite, lakukanlah hobymu.” Dan kemudian: “Dengarkan bahasa tubuhmu.”
Hal penting dari Novi adalah: menjaga kesehatan bukan hanya soal pergi ke rumah sakit saat sudah parah. Menjaga kesehatan artinya mengenali tubuh sebelum tubuh berteriak. Makan, istirahat, olahraga, punya ruang bersenang-senang, marah, sedih, menangis, dan berbicara, serta memiliki waktu untuk diri sendiri.
Novi bahkan mengatakan sesuatu yang mungkin membuat banyak perempuan tertawa sekaligus berpikir: “Abaikan pekerjaan rumah tanggamu….!”
Bukan berarti rumah tidak penting. Tetapi mungkin sesekali pekerjaan rumah memang harus menunggu, sementara tubuh perempuan tidak bisa selalu menunggu.
Karena itu, nasihat Novi kemudian terasa sangat kuat: “Sayangi dirimu melebihi bagaimana engkau menyayangi orang lain.”
Bagi perempuan yang sejak kecil diajarkan untuk mendahulukan keluarga, kalimat itu bisa menjadi sesuatu yang sangat radikal.
Kalau tubuh kewalahan, jangan hanya menyalahkan tubuh
Novi juga menyinggung kesehatan mental. Ia pernah mengusulkan agar pendidikan kesehatan mental menjadi bagian dari sekolah buruh atau kegiatan serikat. Menurutnya, ini bukan tambahan kecil. “Kesehatan mental itu pondasi penting bagi perempuan pekerja biar tetap waras di era tekanan dunia.”
Ia bahkan menggunakan kalimat yang sangat sederhana: “Biar tubuh gak kewalahan menanggung yang endingnya ‘sakit’.”
Kita tidak boleh sembarangan mengatakan bahwa stres menyebabkan penyakit tertentu. Tubuh manusia jauh lebih kompleks dari itu. Tetapi kita juga tidak bisa mengabaikan hubungan antara tekanan hidup, kelelahan, kesehatan mental, pola istirahat, dan kemampuan seseorang untuk merawat diri. Dari sekian banyak tekanan yang dialami peremuan, pembicaraan kita tidak cukup hanya tentang pemeriksaan reproduksi. Kesehatan mental juga harus menjadi bagian dari perjuangan.
Bagaimana seharusnya serikat hadir?

Bagian Kanan: Pekerja Pabrik Uralmash, 1934 (Lukisan Realisme Sosialis Yuri Pimenov )
Jeny memiliki pandangan sangat jelas. Menurutnya, serikat buruh harus menyelenggarakan pendidikan kesehatan khusus perempuan. Bukan hanya tentang penyakit reproduksi, tetapi juga pengetahuan atas tubuh, kontrasepsi, efek samping, dan hak buruh ketika harus berobat.
Serikat mesti memperjuangkan jam kerja manusiawi dan mendampingi ketika anggota bermasalah dengan BPJS atau pelayanan kesehatan. Serikat mesti menciptakan ruang aman agar perempuan dapat bercerita tentang keluhan kesehatan tanpa takut dianggap lemah atau tidak mampu bekerja, ini penting.
Karena serikat seharusnya tidak hanya hadir ketika buruh di-PHK. Serikat juga harus hadir ketika tubuh anggota mulai menyerah. Dari pengalaman dirinya itulah, Jeny semakin meneguhkan diri untuk aktif di PSBM (Persatuan Serikat Buruh Makassar) yang berafiliasi dengan FSBPI (Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia). Saat ini, Jeny adalah Koordinator P3BP (Posko Pembelaan dan Perlindungan Buruh Perempuan) Makassar.
Novi, mengusulkan hal-hal yang sangat praktis: senam ringan dalam pertemuan, menyediakan alat olahraga di sekretariat, menghadirkan profesional untuk membahas kesehatan mental, serta membantu anggota yang mengalami kesulitan keuangan. Mungkin sebagian orang akan bertanya, bukankah serikat buruh tugasnya memperjuangkan upah?
Ya. Tetapi apa gunanya upah jika tubuh pekerja hancur karena tidak memiliki kesempatan untuk sehat? Apa gunanya serikat jika anggotanya tidak punya ruang untuk bercerita ketika sedang sakit? Perjuangan buruh seharusnya juga memperjuangkan kehidupan yang layak untuk dijalani sehari-hari.
Ketika Hukum Tidak Sampai ke Tubuh Perempuan
Di atas kertas, perempuan memiliki hak atas kesehatan reproduksi. UU No. 17/2023 tentang Kesehatan menjamin hak setiap orang untuk menjalani kehidupan reproduksi dan seksual yang sehat dan aman, memperoleh informasi, edukasi, dan konseling kesehatan reproduksi yang benar, serta mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu, dan terjangkau. Dalam hukum Ketenagakerjaan juga terdapat perlindungan bagi buruh perempuan, termasuk hak atas istirahat dan cuti terkait haid, kehamilan, persalinan, dan keguguran.
Tetapi pengalaman Jeny dan Novi memperlihatkan ada jurang yang besar antara hak yang tertulis dan tubuh perempuan yang menjalani kehidupan sehari-hari.
Jeny adalah contoh bagaimana perempuan pekerja bisa keluar-masuk kerja pabrik, sementara Novi bahkan harus berpindah dari pekerjaan pabrik ke laundry dan menjadi PRT. Ketika hubungan kerja semakin tidak tetap dan pekerjaan semakin informal, perlindungan terhadap tubuh ikut rapuh.
Hak kesehatan, cuti, penghasilan ketika sakit, jaminan keberlanjutan kerja, dan perlindungan ketika tubuh tidak lagi kuat bekerja adalah hal mahal. Perempuan diminta menjaga tubuhnya, tetapi pekerjaan informal saat ini tidak selalu memberi jaminan untuk hidup dan bekerja dengan sehat. Pada titik ini, persoalannya bukan hanya bagaimana perempuan sehat, tetapi bagaimana negara dan dunia kerja menjamin keberlanjutan hidup perempuan pekerja. Ini adalah sistem yang saling terhubung.
Rasa sedih sekaligus marah itu muncul. Andai ada jaminan keberlanjutan kerja, perempuan tidak harus berpindah-pindah mencari penghidupan, mungkin cerita Jeny dan Novi tidak sesakit sekarang. Hukum ada, tapi belum sampai ke tubuh buruh.
Karena itu, perjuangan kesehatan reproduksi buruh perempuan tidak berhenti pada tuntutan layanan Kesehatan tapi juga perjuangan melawan informalisasi kerja, memperjuangkan pekerjaan yang berkelanjutan, jaminan sosial, hak berobat tanpa kehilangan penghasilan, serta kondisi kerja yang memungkinkan perempuan merawat tubuh tanpa harus mempertaruhkan kehidupannya.
Pemerintah juga tidak boleh hanya meminta perempuan menjaga diri
Jeny menuntut pemerintah menjamin hak kesehatan yang; utuh, murah, mudah diakses dan berkualitas. Pelayanan KB harus disertai informasi lengkap. Hak cuti sakit, cuti haid, dan perlindungan terhadap perempuan hamil harus benar-benar dijalankan. Ia juga menyinggung fasilitas pengasuhan anak buruh yang masih jauh panggang dari api.
Bayangkan buruh perempuan harus pergi berobat, tetapi tidak punya siapa pun untuk menjaga anak. Akhirnya ia menunda pemeriksaan. Atau seorang ibu memilih bekerja di luar rumah karena tidak ada pilihan ekonomi, sementara anaknya membutuhkan pengasuhan. Di sinilah kita melihat bahwa kesehatan perempuan tidak pernah berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan upah, waktu kerja, jaminan sosial, pengasuhan anak, layanan kesehatan, hubungan keluarga, dan kebijakan negara.
Karena itu, tanggung jawab menjaga kesehatan perempuan tidak bisa dilempar seluruhnya kepada perempuan. Perempuan memang perlu mendapatkan pengetahuan untuk menjaga tubuhnya. Tetapi perusahaan harus menyediakan kondisi kerja yang layak. Serikat harus memperjuangkan perlindungan. Negara harus menyediakan layanan dan kebijakan. Keluarga juga harus berbagi tanggung jawab.
Jangan tunggu tubuhmu menyerah
Dari Jeny kita belajar tentang tubuh yang terlalu lama diajak menahan sakit. Dari Novi kita belajar tentang tubuh yang tidak mampu lagi bekerja dan kehilangan penghidupan. Padahal perempuan pekerja juga manusia.
Buruh perempuan bukan hanya tenaga kerja. Ia adalah ibu, istri, anggota serikat, pengurus organisasi. Hargai keberadaannya, karena tubuhnya bisa lelah, sakit, punya kebutuhan, punya hak atas informasi dan pelayanan Kesehatan. Dan yang paling penting, tubuh punya hak untuk menentukan dirinya sendiri.

Bagian Kiri: Pekerja Pabrik Uralmash, 1934 (Lukisan Realisme Sosialis Yuri Pimenov )
Mungkin kita terlalu lama memuji perempuan karena kuat. Kita memuji ibu yang tetap bekerja ketika sakit, mengurus anak ketika lelah, atau memuji aktivis perempuan yang tetap bergerak meski dirinya sendiri membutuhkan istirahat.
Tetapi barangkali kita perlu berhenti sebentar. Karena ada perbedaan antara kuat dan dipaksa kuat. Jeny pernah menganggap nyeri dan kram sebagai sesuatu yang mungkin biasa karena pekerjaan. Novi harus berhenti bekerja ketika tubuhnya mulai tidak mampu mengikuti tuntutan hidup. Dan keduanya memperlihatkan kepada kita bahwa menjaga kesehatan perempuan tidak cukup dengan mengatakan, “Perempuan harus lebih peduli pada dirinya.”
Ada sistem yang sedang dan harus kita bangun agar peremuan punya kuasa atas tubuhnya sendiri. Karena tubuh perempuan bukan mesin produksi yang harus terus bekerja. Bukan pula mesin reproduksi yang hanya bertugas melahirkan dan mengurus keluarga. Tubuh perempuan adalah rumah pertama bagi dirinya sendiri.
Dan mungkin, setelah bertahun-tahun merawat semua orang, sudah waktunya perempuan belajar mengatakan: Aku juga penting, boleh istirahat, boleh berobat, berhak didengar, Mari merawat diri.
Dan seperti kata Novi: “Sayangi dirimu melebihi bagaimana engkau menyayangi orang lain.”
Get The Union Briefing
One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.
Subscribe