Bacaan

Tan Malaka, Kelas Menengah yang Terhimpit, dan Bara Gerakan Perubahan

Oleh: Agung Nugroho Gelombang aksi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM Pertamax dan kenaikan suku bunga acuan menjadi fenomena sosial-politik yang menarik untuk dibaca melalui perspektif pemikiran Tan Malaka. Bagi sebagian orang, aksi tersebut mungkin hanya dianggap sebagai respons sesaat terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Namun, dalam kacamata Tan Malaka, gejolak semacam ini sering kali merupakan […]

Tan Malaka, Kelas Menengah yang Terhimpit, dan Bara Gerakan Perubahan

Oleh: Agung Nugroho

Gelombang aksi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM Pertamax dan kenaikan suku bunga acuan menjadi fenomena sosial-politik yang menarik untuk dibaca melalui perspektif pemikiran Tan Malaka. Bagi sebagian orang, aksi tersebut mungkin hanya dianggap sebagai respons sesaat terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Namun, dalam kacamata Tan Malaka, gejolak semacam ini sering kali merupakan gejala dari kontradiksi sosial yang lebih dalam antara kepentingan rakyat dengan arah kebijakan negara.

Kenaikan harga Pertamax dan meningkatnya suku bunga acuan pada saat yang hampir bersamaan menciptakan tekanan berlapis terhadap daya beli masyarakat. Kenaikan biaya transportasi, meningkatnya cicilan rumah dan kendaraan, bertambahnya beban kredit usaha, hingga naiknya harga berbagai kebutuhan pokok menjadi konsekuensi yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Salah satu kelompok yang merasakan dampak cukup besar adalah kelas menengah, yakni kelompok yang selama ini menjadi motor konsumsi nasional sekaligus penyangga stabilitas ekonomi domestik.

Dalam perspektif sosiologi politik modern, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui konsep relative deprivation, yaitu keadaan ketika harapan masyarakat terhadap kesejahteraan dan mobilitas sosial tidak lagi sejalan dengan kenyataan yang mereka alami. Selama bertahun-tahun kelas menengah Indonesia dibentuk oleh optimisme bahwa kerja keras, pendidikan, dan produktivitas akan menghasilkan kehidupan yang lebih baik. Namun ketika biaya hidup meningkat lebih cepat daripada pendapatan, optimisme tersebut mulai terkikis. Akan tetapi, dalam kerangka pemikiran Tan Malaka, yang lebih penting bukanlah posisi kelas menengah itu sendiri, melainkan meluasnya kesadaran sosial akibat tekanan ekonomi yang dirasakan rakyat. Tekanan yang kini dialami kelas menengah menjadi penting bukan karena kelompok ini merupakan satu-satunya motor perubahan, melainkan karena gejala tersebut menunjukkan bahwa dampak krisis ekonomi mulai dirasakan oleh lapisan masyarakat yang semakin luas. Ketika keresahan kelas menengah bertemu dengan persoalan yang selama ini dialami buruh, petani, nelayan, pelaku usaha kecil, pekerja informal, dan kelompok rakyat lainnya, maka terbentuklah basis sosial yang lebih besar bagi lahirnya gerakan perubahan.

Dalam pemikiran Tan Malaka, persoalan ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Kesulitan hidup yang dialami rakyat pada akhirnya akan memengaruhi kesadaran politik mereka. Dalam Aksi Massa, Tan Malaka menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak dapat bergantung pada tindakan segelintir elit atau tokoh politik. Perubahan hanya mungkin terjadi apabila rakyat menjadi subjek yang sadar atas kepentingannya sendiri. Karena itu, aksi massa bukan sekadar demonstrasi yang melibatkan banyak orang, melainkan proses berkembangnya kesadaran, organisasi, dan partisipasi rakyat dalam memperjuangkan kepentingan bersama. Semakin luas rakyat yang terlibat dan memahami tujuan perjuangannya, semakin dekat suatu gerakan dengan karakter aksi massa sebagaimana yang dimaksud Tan Malaka.

Karena itu, aksi mahasiswa yang muncul sebagai respons terhadap kenaikan BBM dan kenaikan suku bunga tidak dapat dipandang hanya sebagai penolakan terhadap satu atau dua kebijakan ekonomi. Aksi tersebut sesungguhnya mencerminkan kegelisahan yang lebih luas mengenai masa depan ekonomi generasi muda, kesempatan kerja, keterjangkauan perumahan, biaya pendidikan, serta menurunnya daya beli keluarga. Dalam konteks ini, mahasiswa menjadi salah satu kelompok sosial yang menangkap lebih awal gejala keresahan yang mulai berkembang di tengah masyarakat.

Namun, untuk memahami pemikiran Tan Malaka secara utuh, penting untuk membedakan antara aksi massa dengan kecenderungan politik yang hanya mengandalkan mobilisasi sesaat. Tan Malaka mengkritik praktik politik yang bertumpu pada manuver elit, spontanitas tanpa organisasi, atau tindakan yang tidak memiliki basis kuat di tengah rakyat. Dalam berbagai tulisannya, ia menolak pandangan bahwa perubahan dapat diwujudkan melalui petualangan politik segelintir kelompok tanpa keterlibatan rakyat secara luas. Kritik inilah yang kemudian sering diringkas sebagai kritik terhadap politik gerombolan, yakni praktik politik yang mengandalkan mobilisasi sesaat tanpa proses pendidikan dan pengorganisasian rakyat yang memadai.

Penting pula untuk dipahami bahwa tidak setiap demonstrasi mahasiswa secara otomatis dapat disebut sebagai aksi massa dalam pengertian Tan Malaka. Aksi mahasiswa Universitas Indonesia pada 12 Juni 2026 yang menolak kenaikan harga BBM Pertamax merupakan contoh yang menarik untuk dibaca dalam kerangka tersebut. Gerakan itu mencerminkan munculnya kesadaran kritis generasi muda terhadap kebijakan ekonomi yang dianggap semakin membebani kehidupan masyarakat, khususnya di tengah meningkatnya biaya hidup, naiknya suku bunga, dan menurunnya daya beli.

Dalam konteks tersebut, aksi mahasiswa Universitas Indonesia pada 12 Juni 2026 dapat dipahami sebagai salah satu ekspresi awal dari berkembangnya kesadaran sosial terhadap dampak kebijakan ekonomi. Gerakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kenaikan biaya hidup tidak lagi dipandang semata sebagai urusan rumah tangga atau persoalan individu, melainkan mulai dipahami sebagai persoalan publik yang layak diperjuangkan secara kolektif. Namun, dalam kerangka Tan Malaka, aksi tersebut lebih tepat dipahami sebagai pemantik atau embrio aksi massa, bukan aksi massa yang telah matang. Statusnya akan ditentukan oleh kemampuannya membangun hubungan dengan persoalan yang dihadapi lapisan rakyat yang lebih luas dan mengubah keresahan ekonomi menjadi kesadaran politik yang terorganisasi.

Dengan demikian, aksi mahasiswa UI pada 12 Juni 2026 dapat dipandang sebagai tahap awal dari proses yang lebih panjang. Potensi gerakan tersebut akan semakin besar apabila mampu menjelaskan keterkaitan antara kenaikan BBM, kenaikan suku bunga, menurunnya daya beli, meningkatnya biaya pendidikan, mahalnya akses perumahan, ancaman perlambatan ekonomi, serta tekanan yang dialami pelaku usaha kecil, pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya. Ketika berbagai persoalan tersebut dipahami sebagai bagian dari masalah yang saling berkaitan, maka peluang terbentuknya kesadaran kolektif akan semakin besar.

Di sinilah relevansi pemikiran Tan Malaka menjadi penting. Ia tidak memandang mahasiswa sebagai pengganti rakyat, melainkan sebagai pelopor yang membantu membangkitkan kesadaran rakyat. Tugas mahasiswa bukan sekadar melakukan protes, tetapi menjembatani persoalan yang mereka suarakan dengan kebutuhan dan pengalaman hidup masyarakat luas. Karena itu, keberhasilan suatu gerakan tidak diukur dari seberapa besar demonstrasi yang dilakukan, melainkan dari seberapa jauh gerakan tersebut mampu mengubah keresahan ekonomi rakyat menjadi kesadaran politik yang terorganisasi.

Dari sudut pandang politik, pemerintah juga perlu memahami bahwa meluasnya tekanan ekonomi ke berbagai lapisan masyarakat merupakan persoalan yang tidak dapat dipandang semata-mata sebagai konsekuensi teknokratis kebijakan ekonomi. Ketika semakin banyak kelompok sosial merasakan penurunan daya beli, meningkatnya beban hidup, dan menyempitnya ruang mobilitas ekonomi, maka potensi lahirnya ketidakpuasan sosial juga meningkat. Dalam sejarah banyak negara, perubahan politik sering kali didahului oleh meluasnya keresahan ekonomi yang kemudian menemukan saluran politiknya.

Karena itu, aksi mahasiswa yang menolak kenaikan Pertamax tidak semestinya dibaca hanya sebagai penolakan terhadap kebijakan energi. Ia juga dapat dipahami sebagai sinyal awal bahwa sebagian masyarakat mulai mempertanyakan arah kebijakan ekonomi yang mereka anggap semakin membebani kehidupan sehari-hari. Jika tekanan ekonomi terus berlangsung tanpa adanya langkah-langkah yang mampu memulihkan daya beli dan memberikan rasa aman sosial, maka keresahan tersebut dapat berkembang menjadi tuntutan perubahan yang lebih luas.

Dalam perspektif Tan Malaka, perubahan besar tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari akumulasi persoalan-persoalan nyata yang dialami rakyat dalam kehidupan sehari-hari. Kenaikan harga BBM, meningkatnya suku bunga, melemahnya daya beli, dan tekanan ekonomi yang semakin dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat bukanlah faktor yang secara otomatis melahirkan perubahan politik. Faktor-faktor tersebut baru menjadi kekuatan perubahan ketika mampu menyatukan berbagai kelompok rakyat dalam kesadaran mengenai persoalan yang mereka hadapi bersama.

Dengan demikian, relevansi Tan Malaka pada situasi Indonesia hari ini bukan terletak pada romantisme revolusi, melainkan pada penekanannya bahwa perubahan sosial harus berakar pada pengalaman nyata rakyat. Dalam konteks itulah aksi mahasiswa UI pada 12 Juni 2026 dapat dibaca sebagai salah satu gejala awal dari proses tersebut. Apakah ia akan berkembang menjadi aksi massa sebagaimana yang dibayangkan Tan Malaka, atau tetap menjadi protes sektoral yang terbatas, sangat bergantung pada kemampuan gerakan untuk menghubungkan kepentingan mahasiswa dengan kepentingan rakyat secara lebih luas. Bagi Tan Malaka, perubahan bukan lahir dari kemarahan sesaat, melainkan dari rakyat yang sadar, terorganisasi, dan memahami tujuan perjuangannya.

Get The Union Briefing

One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.

Subscribe