Perjuangan Kita

PERJALANAN DINAMIKA MICHAEL ONCOM: SOSOK PEJUANG TANGGUH

Oleh: Azmir Zahara Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) telah melaksanakan Kongres ke 3 (tiga) pada tanggal 7-9 Juni 2026 di Jakarta.  Momentum ini menjadi refleksi perjalanan KPBI dan juga sebagai ruang konsolidasi untuk menetapkan program organisasi kedepan.  Kongres ke 3 ini mengambil tema: Menangkan Politik Kelas Pekerja dan Bangun Kemandirian Ekonomi. Dalam Kongres kali ini, […]

PERJALANAN DINAMIKA MICHAEL ONCOM: SOSOK PEJUANG TANGGUH

Oleh: Azmir Zahara

Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) telah melaksanakan Kongres ke 3 (tiga) pada tanggal 7-9 Juni 2026 di Jakarta.  Momentum ini menjadi refleksi perjalanan KPBI dan juga sebagai ruang konsolidasi untuk menetapkan program organisasi kedepan.  Kongres ke 3 ini mengambil tema: Menangkan Politik Kelas Pekerja dan Bangun Kemandirian Ekonomi. Dalam Kongres kali ini, Damar Panca Mulya alias Michael Oncom terpilih Kembali menjadi Sekertaris Jenderal KPBI untuk periode 2026-2030. Oleh karena itu, penulis ingin menggambarkan perjalanan Oncom dalam dinamika pergerakan buruh di Indonesia.

Penulis akan memulainya dari aktifitas Oncom semasa dalam Gerakan Mahasiswa, kemudian Live in dan bergabung dengan Serikat buruh.  Selanjutan, penulis akan memaparkan proses terbentuknya KPBI dimana Oncom terlibat didalamnya. Bicara konflik, penulis juga akan mengulasnya sedikit konflik yang terjadi didalam kepenguruaan Federasi tempat Oncom bernaung hingga membangun serikat buruh dari awal dan hingga terjadi fusi. Di akhir tulisan, penulis menggambarkan sosok Oncom memang layak dan pilihan tepat sebagai Sekertaris Jenderal KPBI. Berikut ini penjelasannya:

Dunia Gerakan Mahasiswa

Oncom merupakan potret generasi aktivis mahasiswa yang tidak ingin sekadar menjadi penonton di tengah dinamika sosial-politik. Memulai langkah dan menimba kesadaran kritisnya di lingkungan Universitas Gunadarma, ia tumbuh menjadi salah satu motor penggerak yang mendedikasikan waktu dan pemikirannya untuk mengorganisir massa rakyat, khususnya dari sektor pemuda dan mahasiswa.

Dinding-dinding kampus Universitas Gunadarma tidak membatasi pandangan Oncom terhadap realitas sosial di luar kampus. Di sinilah ketajaman analisisnya mulai terasah. Ia menyadari bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral yang besar sebagai agen perubahan (agent of change). Melalui diskusi-diskusi kecil, bedah buku, dan konsolidasi internal di kampus Gunadarma, Oncom mulai menggalang kepedulian sesama mahasiswa terhadap isu-isu kerakyatan, mulai dari komersialisasi pendidikan hingga represi terhadap ruang demokrasi.

Kesadaran bahwa gerakan di dalam satu kampus tidak akan cukup untuk mendobrak sistem yang mapan membawa Oncom bergabung dan aktif dalam Gerakan Mahasiswa Jakarta (GMJ). Di wadah lintas kampus ini, kapasitas kepemimpinan dan jaringan Oncom semakin meluas. Bersama GMJ, Oncom kerap berada di barisan depan aksi-aksi massa di ibu kota. Ia terlibat aktif merespons kebijakan-kebijakan nasional yang dinilai merugikan masyarakat luas. GMJ menjadi alat perjuangan bagi Oncom untuk memahami pentingnya persatuan dan strategi perlawanan yang terstruktur ditingkat regional Jakarta.

Oncom bersama kawan-kawan ideologisnya memandang perlunya sebuah wadah nasional yang lebih permanen, terstruktur, dan berbasis pada nilai-nilai perjuangan yang tegas. Bersama elemen gerakan lainnya, Oncom ikut membidani lahirnya Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI). SMI didirikan sebagai wadah kaderisasi yang progresif dan revolusioner. Di dalam SMI, Oncom ikut menanamkan fondasi perjuangan yang menekankan pada pentingnya mewujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis, dan mengabdi kepada rakyat. Melalui SMI pula, gerakan mahasiswa ditarik untuk saling bahu-bahu dan bersolidaritas dengan perjuangan sektor lain seperti buruh, tani, dan kaum miskin kota.

Masuk Dunia Gerakan Buruh: Mengorganisir Buruh di Cikarang

Bagi sebagian orang, menyelesaikan masa perkuliahan adalah gerbang menuju kenyamanan karier personal. Namun, tidak bagi Oncom. Setelah menanggalkan statusnya sebagai mahasiswa, Oncom memilih jalan yang sunyi namun berani: melangkah langsung ke jantung industri terbesar di Indonesia, kawasan industri Cikarang, Bekasi.

Bukan sekadar berkunjung, Damar memilih untuk live in—hidup bersama dan menyatu dengan denyut nadi kehidupan kaum buruh. Di sanalah ia mengasah kepekaan sosialnya, belajar secara langsung mengenai pahit getirnya kondisi lapangan, peliknya permasalahan struktural, hingga lingkaran perjuangan para pekerja pabrik. Pengalaman empiris di akar rumput inilah yang kemudian menuntun langkahnya untuk bergabung dengan Federasi Perjuangan Buruh Jabodetabek (FPBJ).

Di dalam organisasi FPBJ, kehadiran Oncom meningkatakan perjuangan dan pengorganisiran buruh. Ia tidak hanya hadir sebagai anggota, melainkan penggerak aktif yang terlibat dalam aktifitas organisasi: mulai dari konsolidasi massa, penyelenggaraan pendidikan politik dan workshop perburuhan, hingga memimpin langsung aksi-aksi massa di lapangan. Dedikasi dan integritas yang ia tunjukkan mendapat kepercayaan penuh dari kawan-kawan buruh. Pada Kongres ke-2 FPBJ, Oncom terpilih sebagai Sekretaris Jenderal.

Tahun 2012 menjadi salah satu catatan sejarah penting bagi gerakan buruh di Cikarang, sekaligus ujian kepemimpinan bagi Oncom. Di bawah eskalasi ketegangan industri, Gerakan Buruh Cikarang meluncurkan aksi “geruduk pabrik” secara masif. Aksi kolektif ini menjadi panggung perlawanan dalam menuntut upah layak dan kepastian status kerja tetap bagi ribuan buruh yang selama ini terjebak dalam sistem kontrak yang rentan.

Keberhasilan, soliditas, dan daya juang dalam peristiwa tersebut membawa dampak besar bagi organisasi. FPBJ tidak lagi sekadar menjadi representasi lokal kawasan Jabodetabek; pengaruhnya kian membesar dan meluas ke berbagai daerah. Menjawab tantangan zaman dan kebutuhan perluasan basis perjuangan, FPBJ akhirnya bertransformasi menjadi federasi berskala nasional dengan mengubah namanya menjadi Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI).

KPBI: Alat Pertahanan Dan Perlawanan

Bagi Oncom, perjuangan kelas pekerja bukanlah deretan aksi instan di jalanan, melainkan sebuah ikhtiar panjang yang menuntut arah strategis dan wadah yang kokoh. Berangkat dari gelisah yang sama atas masifnya serangan balasan pengusaha paska aksi gruduk pabrik dan regulasi yang terus memojokkan kaum buruh, Oncom meyakini satu hal, buruh tidak akan pernah menang selama gerakannya masih terfragmentasi. Buruh membutuhkan sebuah perisai sekaligus pedang—sebuah alat pertahanan sekaligus alat perlawanan.

Gagasan besar inilah yang kemudian memicu diskusi di dalam federasi dan akhirnya menjadi program organisasi yakni “Pembangunan Konfederasi”. Kemudian federasi menugaskan Adi (Solo) Wibowo dan Oncom untuk membuat proposal persatuan berjudul “Konfederasi Persatuan: sebagai alat pertahanan dan perlawanan buruh.” Proposal persatuan ini bukan sekadar coretan di atas kertas, melainkan sebuah cetak biru (blue print) radikal yang menawarkan arah baru bagi masa depan gerakan buruh di Indonesia.

Setelah proposal persatuan selesai dibuat, federasi membagi beberapa tim konsolidator untuk membawa proposal persatuan ke berbagai serikat buruh. Salah satu tim konsolidator yaitu Oncom, Adi Solo dan penulis. Gagasan besar tidak akan berarti tanpa keberanian eksekusi. Sebagai pelopor, Oncom mengambil langkah konkret yang menjadi titik balik penting. Ia membawa “Proposal Persatuan” tersebut langsung ke basis-basis massa strategis.

Langkah beraninya menuntunnya mendatangi Pelabuhan Tanjung Priok, yang menjadi markas dari SBTPI (Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia—yang kini bertransformasi menjadi FBTPI, Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia) yang dipimpin oleh Ilhamsyah alias Boing. Kedatangannya ke jantung pergerakan buruh pelabuhan tersebut menjadi awal Sejarah konfederasi persatuan dimulai.

Melalui diskusi, konsolidasi, dan penyamaan visi di Priok, gagasan persatuan tersebut mulai mendapat sambutan dan membakar semangat perlawanan yang lebih luas. Dari Tanjung Priok itulah, cetak biru yang ditulis Adi Solo mulai bernyawa. Hingga akhirnya pada tahun 2016, lahirlah secara resmi Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) sebagai wadah persatuan buruh yang solid dan progresif. Pada saat kongres pembentukan, Ilhamsyah terpilih menjadi Ketua Umum dan Oncom terpilih menjadi Sekretaris Jenderal KPBI.

Dinamika Konflik Dan Membangun Serikat Buruh Kembali Dari Nol

Perjalanan di dalam gerakan buruh jarang sekali berupa jalan yang lurus dan mulus. Ujian kepemimpinan dan prinsip justru sering kali datang dari dalam rumah sendiri. Pada tahun 2018, badai dinamika menghantam kepengurusan pusat Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI). Polarisasi pandangan memuncak hingga melahirkan keputusan sepihak, Oncom diberhentikan dari kepengurusan pusat federasi melalui rapat pimpinan pusat. Dalam hal ini, penulis yang juga sebagai pimpinan pusat federasi tidak dilibatkan dalam rapat. Penulis pada waktu itu sedang berada di Aek Loba, Sumatera Utara mengawal pemogokan buruh PT. Varem Sawit Cermelang.

Keputusan tersebut sontak memicu pergolakan hebat di basis. Gelombang protes keras bergemuruh dari berbagai pengurus tingkat perusahaan—terutama dari basis-basis militan. Beberapa pengurus tingkat perusahan yang membuat surat keberatan atas pemecatan Oncom antara lain yaitu PTP. PT Sintertech, PTP. PT. Madusari, PTP. PT. Kyowa Indonesia, PTP. PT Mitratama, PTP. PT. Tempo Scan Pasific, PTP. PT. Unipack Indosystems. FPBI Cabang Yogyakarta yang diwakili oleh Restu Bagaskara juga memprotes pemecatan Oncom. Penulis sendiri setelah mendengar kabar pemecatan oncom langsung membuat surat tanggapan yang ditunjukan kepada Pengurus Pusat Federasi.

Bagi para anggota di lapangan, pemecatan Oncom adalah langkah keliru yang mencederai nilai-nilai demokratis dan semangat perjuangan yang selama ini dibangun bersama. Solidaritas yang kuat dari arus bawah akhirnya memaksa organisasi membahas soal pemecatan Oncom dalam Rapat Pleno Nasional yang berujung pada pembatalan surat pemberhentian tersebut. Forum bahkan mengusulkan untuk memanggil kembali Oncom ke dalam struktur kepengurusan.

Di hadapan konflik internal tersebut, Oncom mengambil sebuah keputusan besar yang berani. Alih-alih kembali ke struktur lama yang sempat retak, ia memilih jalan yang lebih terjal, yaitu membangun kembali serikat buruh sepenuhnya dari awal. Bagi Oncom, perjuangan tidak boleh tersandera oleh konflik internal. Menarik diri dari struktur lama bukan berarti menyerah, melainkan sebuah langkah taktis untuk merawat api pergerakan yang lebih murni dan sehat. Dengan keyakinan dan tekad yang kuat, ia turun kembali ke lapangan, merajut simpul-simpul massa yang sempat tercerai-berai, dan memulai pengorganisasian dari titik nol.

Kerja keras dan reputasi Oncom sebagai organisator segera membuahkan hasil di fase awal pembangunan kembali ini. Lewat pendekatan yang gigih, ia berhasil membangun dua tonggak basis perjuangan baru yaitu Medan (Sumatera Utara) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Dua basis baru ini bukan sekadar wilayah administratif, melainkan fondasi kokoh dari sebuah serikat buruh baru yang lahir dengan semangat persatuan yang jauh lebih matang. Gerakan yang dibangun Oncom dari puing-puing konflik ini pada akhirnya tumbuh menjadi pilar penyokong yang tangguh bagi kerja-kerja Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) di tingkat nasional.

Lahirnya Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI)

Garis perjuangan Oncom selalu berporos pada satu prinsip: persatuan adalah kunci melipatgandakan kekuatan. Seiring berjalannya waktu, serikat buruh yang dibangun oleh Oncom menyadari bahwa untuk menghadapi tantangan kapitalisme yang semakin kompleks, gerakannya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan Tindakan yang progresif untuk menyatukan kekuatan yang berserak.

Momentum itu datang ketika Oncom melihat peluang fusi dengan Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP)—sebuah federasi yang dikenal sangat progresif dan konsisten dalam mengawal isu-isu perburuhan nasional.

Langkah konkret segera diambil. Untuk mewujudkan gagasan besar tersebut, sebuah tim kecil yang terdiri dari Oncom, Adi (Solo), Odi dan Penulis melakukan perjalanan penting menuju Salatiga, Jawa Tengah, tempat di mana pimpinan FBLP saat itu sedang berada. Rombongan tiba sehabis magrib dan disambut baik oleh Atmo dan Dian Septi. Pertemuan di Salatiga ini bukanlah sekadar kunjungan seremonial, melainkan sebuah ruang dialektika ideologis yang menentukan arah gerak ke depan.

Dalam suasana diskusi yang intens, Oncom dengan lugas menawarkan sebuah gagasan progresif yaitu fusi atau penggabungan penuh antar-serikat buruh. Bagi Oncom, meleburkan ego organisasi ke dalam satu wadah baru adalah jalan paling terhormat untuk memperkuat posisi tawar kaum pekerja di hadapan modal dan kebijakan negara yang timpang. Tawaran ini disambut baik, karena kedua belah pihak memiliki kesamaan pandangan tentang persatuan.

Penyatuan tersebut akhirnya melahirkan wadah baru yaitu Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI). Fusi ini membawa warna baru yang sangat signifikan dalam lanskap gerakan buruh. bergabungnya FBLP dan serikat buruh hasil pengorganisiran Oncom ke dalam FSBPI memperkuat karakter ideologis organisasi, terutama dalam meletakkan dasar perjuangan kelas buruh.

FSBPI tidak hanya berdiri sebagai tameng normatif hak-hak pekerja di pabrik, tetapi juga tumbuh menjadi pusat perlawanan yang aktif menyuarakan isu-isu emansipasi Buruh perempuan.

Di bawah bendera FSBPI, perjuangan melawan diskriminasi gender, pelecehan di tempat kerja, serta hak-hak reproduksi buruh perempuan diintegrasikan secara penuh sebagai pilar utama perjuangan organisasi. Melalui fusi di Boyolali ini, Oncom dan kawan-kawan telah berhasil memperluas gerakan buruh—menjadikannya lebih adil, setara, dan berlipat ganda kekuatannya.

Karakter Kepemimpinan Oncom sebagai Sekertaris Jenderal KPBI

Berdasarkan jejak panjang, kemampuan, dan watak kepemimpinannya, Oncom adalah sosok yang paling layak, tepat, dan pantas memimpin KPBI sebagai Sekertaris Jenderal di Kongres ke-3 kali ini, setidaknya ada 4 (empat) poin alasan:

Pertama, Pemimpin Buruh Tangguh:

Ketangguhan Oncom tidak didapatkan dari teori-teori di atas meja, melainkan dari Kawasan-kawasan industri, “kopdar” dengan para buruh. Perjalanannya adalah perjalanan dari bawah, sebuah proses organik yang merentang dari kawasan industri Cikarang, meluas ke seluruh pulau Jawa, menyeberang ke Sumatera, hingga menembus Sulawesi.

Dari satu daerah ke daerah lain, Oncom turun langsung ke basis-basis perlawanan. Pengalaman lapangan yang kaya ini membuatnya memiliki ikatan emosional yang mendalam dengan massa rakyat. Ia paham betul rasa lelah yang dirasakan buruh pabrik, ia mengerti apa yang mereka butuhkan, dan ia tahu persis strategi taktis bagaimana cara memperjuangkannya di meja perundingan maupun di jalanan.

Bagi mereka yang menyaksikannya bertarung, “Oncom” adalah personifikasi dari keteguhan prinsip. Ketika badai represi, konflik, atau kejenuhan datang menerjang gerakan, ia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan mundur atau menyerah. “Ibarat kata, badai datang menghantam, ia tak akan goyah. Oncom tetap tegap berdiri, kokoh bak benteng karang di tengah lautan yang diamuk ombak.”

Kedua, Tidak Birokratis:

Bagi penulis, Oncom sosok karekter yang anti biroktatisme dalam serikat buruh. ia memandang bahwa aturan dan struktur hanyalah alat untuk mempermudah perjuangan, bukan sebuah dinding tebal yang memisahkan antara pemimpin dan anggota. Oncom menolak gaya kepemimpinan yang menjaga jarak atau menuntut formalitas yang berbelit-belit. Di bawah pengawasannya, komunikasi dari pimpinan pusat ke daerah mengalir secara organik dan fleksibel. Administrasi dibuat efisien agar keputusan taktis dapat diambil dengan cepat di lapangan.

Melalui prinsip ini, Oncom berhasil membuktikan bahwa sebuah organisasi buruh tingkat nasional bisa dikelola secara profesional, terstruktur, dan memiliki tata kelola yang kuat, tanpa harus kehilangan watak aslinya: sebuah keluarga besar perjuangan yang setara, egaliter, dan saling terhubung langsung tanpa sekat.

Ketiga, Pembakar Semangat dan Pemersatu:

Oncom bukan sekadar teman bicara, ia adalah seorang pemantik api dalam jiwa. Di saat lelah melanda atau keputusasaan mulai mengikis gerakan, ia hadir sebagai sosok yang pandai menumbuhkan kembali semangat yang meredup. Lewat kata-kata dan teladannya, ia mampu mengobarkan kembali tekad baja yang hampir padam di dada para buruh.

Gerakan buruh sering kali diuji oleh perbedaan isi kepala, namun di sinilah keahlian Oncom bekerja. Ia memiliki talenta langka untuk menjembatani ego, menyatukan pandangan-pandangan yang saling bertolak-belakang, dan merajutnya menjadi satu kekuatan kolektif yang solid. Hebatnya, ia melakukan itu semua tanpa pernah membuat orang lain merasa tersisih. Di bawah arahannya, setiap individu—sekecil apa pun perannya—merasa diakui dan menjadi bagian yang sangat penting dari roda perjuangan.

Keempat, Friendly:

Di luar ketajaman berpikirnya sebagai seorang konseptor, kekuatan terbesar Oncom terletak pada ketulusan karakternya. Ia adalah sosok yang sangat bersahabat (Friendly) dan memiliki pembawaan yang hangat. Baginya, tidak ada sekat sosial dalam perjuangan; ia adalah ruang terbuka yang bisa dimasuki oleh siapa saja. Damar dapat dengan mudah larut dalam obrolan hangat bersama buruh pabrik di lini depan, berdiskusi penuh energi dengan kalangan muda dan pelajar, hingga duduk setara bertukar pikiran dengan para pemimpin serikat. Kemampuannya berkomunikasi membuat siapa pun merasa nyaman dan didengar.

Penutup

Demikianlah sekelumit rekam jejak dan ulasan tentang sosok Damar Panca Mulya, atau yang akrab disapa dengan nama pergerakannya, Michael Oncom. Ia adalah seorang pejuang tangguh yang telah menyerahkan seluruh dedikasi hidupnya untuk berdiri kokoh di garis depan pergulatan kelas buruh Indonesia.

Perjalanan panjangnya—mulai dari merumuskan basis ideologi konfederasi, melewati ujian konflik dengan membangun kembali simpul massa dari nol, hingga menembus sekat organisasi demi melahirkan fusi persatuan—merupakan bukti nyata bahwa api perlawanan tidak akan pernah padam selama ia berakar pada kepentingan rakyat pekerja.

Semoga rekam jejak perjuangan Michael Oncom tidak sekadar menjadi catatan sejarah yang pasif. Lebih dari itu, semoga kisah ini menjelma menjadi bahan bakar yang senantiasa menginspirasi, mempertebal tekad, serta memperkuat keyakinan ideologis kita dalam menjemput kemenangan sejati perjuangan kelas buruh.

Hidup Buruh!!!

Bangkit, Lawan, Hancurkan Tirani!!

Get The Union Briefing

One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.

Subscribe