Bacaan

Saat Marsinah Menjadi Barisan: Membangun Kekuatan Politik Buruh Perempuan KPBI

Oleh : Elza Yulianti Hidayah Di tengah denyut pabrik, ruang produksi, kontrakan sempit, antrean kendaraan buruh selepas kerja, hingga dapur rumah tangga kelaspekerja. Ada satu kenyataan yang sering luput dibicarakan: buruh perempuan memikul beban berlapis. Mereka bekerja untuk upah, tetapi juga menanggung kerja perawatan, pengasuhan, dan rumah tangga yang jarang diakui sebagai kerja. Dari kenyataan […]

Saat Marsinah Menjadi Barisan: Membangun Kekuatan Politik Buruh Perempuan KPBI

Oleh : Elza Yulianti Hidayah

Di tengah denyut pabrik, ruang produksi, kontrakan sempit, antrean kendaraan buruh selepas kerja, hingga dapur rumah tangga kelaspekerja. Ada satu kenyataan yang sering luput dibicarakan: buruh perempuan memikul beban berlapis. Mereka bekerja untuk upah, tetapi juga menanggung kerja perawatan, pengasuhan, dan rumah tangga yang jarang diakui sebagai kerja. Dari kenyataan inilah gagasan Barisan Marsinah lahir—bukan sebagai simbol seremonial, melainkan sebagai upaya membangun kekuatan politik buruh perempuan di dalam tubuh Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI).

Barisan Marsinah dirancang sebagai ruang konsolidasi, pendidikan politik, kaderisasi, pengorganisasian, dan kepemimpinan buruh perempuan. Ia hadir untuk menjawab satu paradoks besar dalam gerakan buruh: perempuan sering menjadi bagian penting dari massa serikat, bahkan di banyak sektor jumlahnya sangat besar, tetapi belum selalu hadir sebagai kekuatan penentu dalam arah perjuangan organisasi. Jumlah yang besar tidak otomatis menjadi kekuatan politik jika tidak diorganisir, dididik, dikader, dan diberi ruang memimpin.

Nama Marsinah dipilih bukan tanpa alasan. Marsinah adalah buruh perempuan yang keberaniannya melampaui zamannya. Ia berdiri di hadapan relasi kuasa antara buruh, modal, dan negara, lalu membayar keberanian itu dengan nyawa. Namun, Barisan Marsinah tidak ingin berhenti pada tindakan mengenang. Mengenang Marsinah berarti meneruskan keberaniannya ke dalam kerja organisasi yang nyata: membangun basis, mencetak kader, memperjuangkan hak, dan menghadirkan kepemimpinan perempuan di tubuh serikat buruh.

Secara konseptual, Barisan Marsinah berangkat dari analisis bahwa persoalan buruh perempuan bukanlah isu tambahan. Upah rendah, kerja kontrak, PHK, diskriminasi maternitas, kekerasan-pelecehan seksual, cuti melahirkan, ruang laktasi, daycare, hingga beban kerja domestik adalah bagian dari persoalan kelas pekerja. Ketika buruh perempuan harus bekerja panjang di pabrik lalu pulang untuk mengurus anak, memasak, mencuci, dan merawat keluarga, maka tubuhnya menjadi tempat bertemunya eksploitasi kapitalisme dan patriarki.

Karena itu, perjuangan buruh perempuan tidak bisa dipisahkan dari perjuangan buruh secara keseluruhan. Kerja reproduksi sosial—seperti pengasuhan anak, perawatan keluarga, dan kerja rumah tangga—adalah kerja yang membuat tenaga kerja bisa terus hidup dan kembali bekerja. Tanpa kerja itu, pabrik tidak akan memiliki buruh yang siap bekerja setiap hari. Namun, kerja ini sering tidak dibayar, tidak diakui, dan dibebankan terutama kepada perempuan. Di sinilah Barisan Marsinah menegaskan: persoalan perempuan adalah persoalan kelas pekerja.

Pembangunan Barisan Marsinah akan diarahkan melalui strategi yang konkret. Mulai dari pemetaan persoalan basis, pendidikan politik, sekolah kader, advokasi hak buruh perempuan, hingga mobilisasi kolektif. Dengan demikian, setiap keluhan tidak berhenti sebagai cerita pribadi, tetapi diubah menjadi kesadaran bersama, tuntutan kolektif, dan kekuatan organisasi.

Barisan Marsinah juga diharapkan menjadi ruang lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan dari akar rumput. Bukan hanya perempuan yang hadir sebagai peserta rapat atau massa aksi, tetapi perempuan yang mampu memimpin diskusi, menyusun strategi, bernegosiasi, mengorganisir basis, dan berbicara atas nama kelas pekerja. Inilah perubahan yang ingin dibangun: dari perempuan sebagai objek kebijakan menjadi perempuan sebagai subjek perjuangan.

Lebih jauh, Barisan Marsinah bukan sekadar “komite perempuan” dalam pengertian administratif. Ia adalah proyek politik gerakan buruh untuk memperkuat KPBI secara keseluruhan. Sebab serikat yang kuat adalah serikat yang mampu mengorganisir seluruh kekuatan kelas pekerja, termasuk buruh perempuan yang selama ini mengalami bentuk eksploitasi dan penindasan yang khas. Menguatkan perempuan berarti menguatkan serikat; mengorganisir perempuan berarti memperluas tenaga perjuangan kelas.

Bayangkan jika di setiap pabrik ada perempuan yang berani berbicara, di setiap wilayah ada koordinator yang aktif mengorganisir, di setiap federasi ada kader perempuan yang memahami analisis kelas, dan di setiap perjuangan serikat isu perempuan tidak lagi diletakkan di pinggir. Bayangkan jika masalah daycare, cuti melahirkan, kekerasan seksual, upah, dan PHK diubah menjadi agenda perjuangan bersama. Itulah gambaran Barisan Marsinah: bukan sekadar nama, tetapi barisan yang bergerak.

Pada akhirnya, Barisan Marsinah mengajak gerakan buruh untuk melihat kembali sumber kekuatannya: pengalaman hidup kelas pekerja itu sendiri. Dari pabrik, rumah, jalanan, rapat serikat, hingga ruang-ruang pendidikan politik, buruh perempuan sedang dipanggil untuk tidak lagi berdiri sendiri-sendiri. Sebab Marsinah bukan hanya nama yang dikenang dalam sejarah. Marsinah adalah barisan yang harus dibangun hari ini.

Penulis adalah Ketua Bidang Politik, Dewan Eksekutif Nasional KPBI 

Get The Union Briefing

One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.

Subscribe