Buruh Menulis

Menjaga Dapur Tetap Ngebul Dan Menjaga Masa Depan Bersama

Oleh: Erham Fadillah Menjadi buruh hari ini bukan cuma soal datang pagi, menyelesaikan tugas harian, lalu menerima gaji di akhir bulan. Di balik rutinitas itu, ada tekanan target produksi yang makin hari makin tinggi, tuntutan kerja yang harus cepat , serta rasa cemas yang diam-diam selalu membayangi, Sampai kapan pekerjaan ini akan bertahan? Di satu […]

Menjaga Dapur Tetap Ngebul Dan Menjaga Masa Depan Bersama

Oleh: Erham Fadillah

Menjadi buruh hari ini bukan cuma soal datang pagi, menyelesaikan tugas harian, lalu menerima gaji di akhir bulan. Di balik rutinitas itu, ada tekanan target produksi yang makin hari makin tinggi, tuntutan kerja yang harus cepat , serta rasa cemas yang diam-diam selalu membayangi, Sampai kapan pekerjaan ini akan bertahan?

Di satu sisi, perusahaan tempat kita bekerja terus menuntut produktivitas dan efisiensi agar tidak gulung tikar menghadapi persaingan pasar. Namun di sisi lain, kita sebagai pekerja harus memutar otak menghadapi harga bahan pokok, biaya kontrakan, dan kebutuhan rumah tangga yang melonjak tanpa seimbang dengan kenaikan pendapatan.

Saya pernah melihat sendiri bagaimana perubahan target produksi membuat teman-teman di lapangan harus bekerja ekstra keras. pada Saat isu efisiensi mulai terdengar, suasana kerja yang tadinya hangat perlahan berubah tegang. Ada teman yang mulai terlihat murung di area istirahat, mempertanyakan apakah namanya masuk dalam daftar pengurangan, bagaimana nasib cicilan rumahnya, hingga bagaimana biaya sekolah anak-anaknya bulan depan.

Dari kejadian-kejadian kecil seperti itulah saya menyadari bahwa persoalan buruh bukan sekadar angka di atas kertas, Di balik tiap angka dan grafik itu, ada keluarga, dan ada masa depan yang dipertaruhkan.

Kalau kita memperhatikan keadaan sekitar, persoalan ini ternyata tidak cuma terjadi di tempat kerja saya. Di banyak tempat, kepastian kerja masih menjadi barang mahal. Banyak teman kita yang bertahun-tahun bekerja dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau melalui mekanisme outsourcing. Padahal, beban kerja dan tanggung jawab yang mereka pikul tidak ada bedanya dengan pekerja tetap. Setiap kali masa kontrak mendekati akhir, muncul rasa cemas yang luar biasa

Apakah kontrak diperpanjang, atau harus kembali mengetuk pintu perusahaan yang lain?

Masalah upah pun jg demikian. Kenaikan upah minimum setiap tahun sering kali habis tergerus inflasi sebelum sempat dinikmati. Upah bagi buruh bukan sekadar nominal angka di lembar slip gaji, melainkan jaminan penentu apakah keluarga bisa makan layak dan anak-anak bisa tetap sekolah.

Ketika perusahaan berdalih melakukan efisiensi demi menghadapi otomatisasi dan perkembangan teknologi, posisi pekerja secara perorangan menjadi sangat rapuh. Jika kita menyampaikan suara atau keluhan sendirian, suara itu sangat mudah diabaikan. Di sinilah saya makin paham mengapa kita membutuhkan wadah perjuangan, yaitu serikat pekerja. Serikat hadir bukan untuk mencari-cari permusuhan dengan manajemen, melainkan untuk memastikan bahwa setiap perubahan di dunia kerja tidak mengabaikan harkat dan kesejahteraan manusia di dalamnya.

Serikat pekerja menjadi wadah bagi pekerja untuk bersatu, menyampaikan aspirasi, dan saling membantu ketika menghadapi persoalan di tempat kerja. Dengan berafiliasi bersama FSP2KI dan KPBI, perjuangan kita menjadi lebih kuat karena tidak berjalan sendiri, tetapi terhubung dengan pekerja di berbagai daerah yang lain.

Manfaatnya juga harus dirasakan langsung oleh anggota, baik dalam memperjuangkan upah, kepastian kerja, keselamatan, maupun ketika menghadapi PHK dan persoalan ketenagakerjaan lainnya. Karena itu, menjaga dapur tetap ngebul bukan hanya soal mempertahankan pekerjaan hari ini, tetapi juga menjaga masa depan pekerja dan keluarganya.

Saya merasakan sendiri betapa pentingnya Bersatu dan Ketika kami punya kesempatan terlibat dalam proses perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Di meja perundingan, saya melihat langsung bagaimana satu pasal atau bahkan satu kata yang tampak sederhana dalam draf aturan, ternyata bisa berdampak besar bagi nasib ratusan pekerja dan keluarganya.

Memasuki ruang perundingan tidak cukup hanya bermodalkan keberanian atau amarah. Kita butuh data, pemahaman hukum, serta strategi yang matang. Saat membawa aspirasi ke meja tersebut, saya sadar bahwa yang saya perjuangkan bukan lagi kepentingan pribadi saya sendiri. Dari proses itu saya belajar bahwa satu suara mungkin mudah dikesampingkan, tetapi suara ratusan orang yang disatukan memiliki daya tawar yang jauh berbeda.

Namun, persatuan ini tidak boleh berhenti hanya di dalam tembok satu perusahaan. Persoalan PKWT, outsourcing, ancaman PHK, hingga Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dialami oleh buruh di mana-mana. Kalau tiap serikat di tingkat perusahaan berjalan sendiri-sendiri, perjuangan kita jg akan mudah dipatahkan.

Di sinilah peran federasi seperti FSP2KI dan konfederasi seperti KPBI menjadi sangat krusial. Federasi dan konfederasi seharusnya bukan cuma tempat berkumpul saat ada momentum aksi atau peringatan hari-hari tertentu. Mereka harus hadir sebagai rumah belajar dan benteng pertahanan bersama. Ketika satu serikat menghadapi masalah perundingan yang buntu atau ancaman PHK sepihak, serikat lain di bawah naungan federasi bisa membagikan pengalaman, bantuan hukum, dan dukungan moral. Persatuan yang sejati berarti ketika ada satu kawan kita yang tertimpa masalah, kita tidak memilih diam hanya karena merasa masalah itu bukan terjadi di unit kerja kita.

Kesejahteraan buruh tidak bisa diukur hanya dari seberapa besar upah yang ditransfer tiap bulan. Upah yang layak memang penting, tetapi kesejahteraan sejati juga mencakup kepastian kerja, perlindungan keselamatan di tempat kerja, hubungan kerja yang bermartabat, serta jaminan masa depan ketika kita sudah tidak lagi produktif.

Untuk mencapai itu, tantangan terbesar kita hari ini adalah membangun kesadaran kelas. Masih banyak di antara kita yang merasa bahwa persoalan di tempat kerja bisa diselesaikan masing-masing. Padahal, ketidakadilan yang dialami kawan kita hari ini sangat mungkin terjadi pada kita besok pagi.

Kesadaran ini juga berarti memahami mengapa kita menjadi anggota serikat. Jumlah anggota yang puluhan ribu tidak akan ada artinya kalau mayoritasnya pasif dan menyerahkan seluruh perjuangan hanya kepada beberapa orang pengurus. Serikat yang kuat adalah serikat yang anggotanya paham akan hak-haknya, mau belajar, dan bersedia berdiri bersama saat dibutuhkan.

Di sisi lain, berserikat juga bukan berarti kita harus selalu memusuhi tempat kita bekerja. Kita sadar bahwa perusahaan butuh keberlanjutan dan produktivitas agar roda bisnis tetap berputar. Namun, hubungan industrial yang sehat harus berdiri di atas landasan yang adil dan pekerjanya ikut sejahtera. Hubungan yang setara inilah yang harus terus diperjuangkan melalui dialog dan perundingan yang jujur.

Bagi kami, menjaga asap tetap ngebul bukan berarti pekerja harus selalu mengikuti apa pun yang menjadi keinginan perusahaan. Begitu juga memperjuangkan kesejahteraan bukan berarti pekerja tidak peduli dengan keberlangsungan perusahaan. Keduanya harus berjalan bersama. Perusahaan membutuhkan pekerja agar produksi tetap berjalan, sementara pekerja membutuhkan perusahaan agar tetap memiliki pekerjaan dan penghasilan. Di sinilah serikat pekerja mempunyai peran penting, yaitu memastikan hubungan tersebut berjalan secara adil dan kepentingan pekerja tetap diperjuangkan. Penelitian Juariah, Widia dan Hartini tahun 2021 dalam jurnalnya yang berjudul Serikat Kerja Karyawan dan Hubungan Industrial terhadap Kesejahteraan Karyawan pada PT. Musi Hutan Persada South Sumatera Province juga menunjukkan bahwa serikat pekerja dan hubungan industrial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan karyawan.

Pada akhirnya, saya semakin yakin bahwa perjuangan kelas pekerja bukan perjuangan satu orang atau satu kelompok saja. Kita mungkin bekerja di industri yang berbeda, memakai seragam yang berbeda, atau duduk di posisi jabatan yang tidak sama. Tetapi pada dasarnya, kekhawatiran dan harapan kita adalah sama yaitu ingin bekerja dengan tenang, dihargai secara adil, dan mampu memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga.

Kalau kita memilih berjalan sendiri-sendiri, posisi tawar kita akan selalu lemah dan suara kita akan mudah lenyap di tengah derasnya arus perubahan ekonomi. Tetapi kalau kita mau duduk bersama, saling belajar, dan saling menguatkan dari tingkat basis perusahaan, federasi (FSP2KI), hingga konfederasi (KPBI) persoalan sebanyak apa pun akan bisa kita hadapi.

Kesejahteraan sejati tidak pernah jatuh dari langit atau diberikan secara cuma-cuma sebagai hadiah. Kesejahteraan harus diperjuangkan secara terorganisir. Dan perjuangan itu hanya akan berhasil jika kita tidak lagi melihat diri kita sebagai individu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu kesatuan kelas pekerja yang saling menjaga satu sama lain.Semoga kesejahteraan kelas pekerja akan segera terwujud dengan perjuangan yang tidak pernah padam

Hidup buruh!!!

Penilis adalah pengurus Serikat Pekerja Demokratis (SPD) Jambi

FSP2KI-KPBI

Get The Union Briefing

One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.

Subscribe