
Wiji Thukul bukan sekadar penyair biasa; ia adalah personifikasi dari penderitaan sekaligus keberanian kaum buruh di bawah tekanan rezim Orde Baru. Lahir pada 26 Agustus 1963 di Kampung Sorogenen, Solo, Wiji tumbuh di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai tukang becak dan buruh. Latar belakang keluarga yang bersahaja—dengan ayah seorang tukang becak—membentuk jati diri Wiji sebagai penyair yang tidak hanya menuliskan narasi kemiskinan, tetapi juga hidup di dalamnya.
Keterlibatan Wiji dalam garis perlawanan buruh lahir dari pengalaman langsung. Sebelum menjadi aktivis penuh waktu, ia pernah bekerja sebagai tukang pelitur di sebuah pabrik mebel antik. Di sanalah ia kerap mendeklamasikan puisi di hadapan rekan-rekan sekerjanya. Pengalaman empiris ini memicu kesadaran kritisnya bahwa seni harus hadir sebagai alat perjuangan sosial. Melalui Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker) yang ia dirikan bersama rekan-rekannya pada tahun 1993, Wiji membawa seni langsung ke basis-basis buruh dan petani di perkampungan. Bagi Wiji, sastra harus mampu membangkitkan kesadaran massa untuk memperjuangkan hak-hak mereka.
Salah satu rekam jejak terpenting dalam sejarah aktivismenya terjadi saat ia mengorganisir mogok kerja dan demonstrasi buruh PT Sri Rejeki Isman (Sritex) pada 11 Desember 1995. Wiji berhasil menggerakkan lebih dari 15.000 pekerja untuk menuntut upah layak serta penghapusan jam kerja lembur yang eksploitatif. Aksi heroik ini harus dibayar mahal: Wiji ditangkap dan dihantam popor senjata oleh aparat hingga mata kanannya mengalami cedera parah dan terancam buta. Namun, kekerasan fisik tersebut gagal memadamkan ikhtiar perjuangannya. Dari ceceran darah dan luka itulah lahir puisi-puisi “pamflet” yang kian membakar semangat perlawanan rakyat.

Karya-karya Wiji, seperti puisi “Peringatan”, bertransformasi menjadi hymne wajib dalam setiap aksi unjuk rasa buruh dan mahasiswa. Larik ikoniknya, “Hanya ada satu kata: lawan!”, mengristal menjadi simbol keberanian bagi mereka yang suaranya dibungkam oleh otoritarianisme. Gaya bahasanya yang lugas, lugat, dan sarat satire memudahkan masyarakat kelas bawah memahami posisi struktural mereka yang tertindas. Wiji menyuarakan jeritan jutaan rakyat yang dimiskinkan oleh pembangunan ekonomi yang hanya memanjakan kaum elit.
Dinamika kehidupan Wiji Thukul bermuara pada catatan sejarah yang tragis sekaligus monumental. Pasca-peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996, ia ditetapkan sebagai buronan politik dan terpaksa hidup berpindah-pindah tempat guna menghindari penculikan. Wiji akhirnya dinyatakan hilang sejak Maret 1998, diduga kuat menjadi korban penghilangan paksa oleh Tim Mawar menjelang kejatuhan rezim Orde Baru. Meski keberadaannya tidak pernah terkuak hingga kini, warisan pemikirannya tetap utuh dan terus mengudara di setiap barisan perjuangan rakyat. Wiji Thukul telah membuktikan sebuah kebenaran sejarah: seorang penyair boleh saja dihilangkan, tetapi kata-kata perlawanannya tidak akan pernah bisa dimusnahkan.

Get The Union Briefing
One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.
Subscribe