Perjuangan Kita

Dari Grobogan dan Kendal Buruh Perempuan Memilih Tetap Berjuang

Belajar dari Perjumpaan Bersama FSB SEMAR Jawa Tengah (Jumisih – Ketua Dewan Buruh Nasional KPBI) Perjalanan ke Jawa Tengah untuk bertemu kawan-kawan FSB SEMAR (Federasi Serikat Buruh Seluruh Masyarakat) yang berafiliasi dengan KPBI (Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia) bukan sekadar agenda organisasi. Bagi saya, setiap pertemuan dengan buruh (perempuan) selalu menjadi ruang belajar untuk memahami kehidupan […]

Dari Grobogan dan Kendal Buruh Perempuan Memilih Tetap Berjuang

Belajar dari Perjumpaan Bersama FSB SEMAR Jawa Tengah

(Jumisih – Ketua Dewan Buruh Nasional KPBI)

Perjalanan ke Jawa Tengah untuk bertemu kawan-kawan FSB SEMAR (Federasi Serikat Buruh Seluruh Masyarakat) yang berafiliasi dengan KPBI (Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia) bukan sekadar agenda organisasi. Bagi saya, setiap pertemuan dengan buruh (perempuan) selalu menjadi ruang belajar untuk memahami kehidupan kelas pekerja secara langsung. Mayoritas buruh perempuan ini adalah pencari nafkah utama dalam keluarga. Di balik angka produksi, target perusahaan, dan berbagai indikator pertumbuhan ekonomi, ada perempuan-perempuan yang setiap hari bekerja dengan disiplin, menopang keluarga, dan mempertahankan martabat kelas pekerja.


Dari perjumpaan itu saya kembali menyadari bahwa persoalan buruh perempuan tidak berdiri sendiri. Mereka menghadapi persoalan di tempat kerja, di rumah, bahkan ketika mereka memilih untuk menjadi bagian dari organisasi serikat buruh. Namun justru di tengah berbagai keterbatasan itulah saya menemukan keteguhan yang luar biasa.

Buruh Perempuan Terlindungi Secara Hukum, tapi Tidak Terealisasi dalam Praktek


“Saya tidak pernah mengambil cuti haid, karena takut dipersulit kalau nanti mengambil cuti tahunan” ungkap Inayah (bukan nama sebenarnya), salah satu buruh Perempuan PT Pungkook Indonesia One pada 27 Juli 2026 di sekretariat FSB SEMAR.
Fakta ini tidak selaras dengan perlindungan hukum yang ada tentang cuti haid sebagai salah satu hak maternitas buruh perempuan dalam Pasal 81 UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Buruh perempuan belum menikmati cuti haid secara utuh. Rasa takut dianggap tidak produktif, tekanan dari atasan, hingga budaya kerja yang belum menghormati pengalaman biologis perempuan mengkondisikan mereka memilih tetap bekerja meski sedang mengalami nyeri haid. Ini menunjukkan bahwa perlindungan hukum saja belumlah cukup; yang dibutuhkan adalah perubahan budaya kerja yang benar-benar menghormati martabat dan kesehatan reproduksi buruh perempuan. Penegakan hukum ini butuh pengawasan birokrasi dalam hal ini adalah Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Grobogan.


Selain fakta tentang cuti haid di atas, kekerasan verbal di tempat kerja juga bukan persoalan sepele. Bentakan, penghinaan, intimidasi, maupun perlakuan yang merendahkan dapat mengganggu kesehatan mental pekerja. Padahal berbagai regulasi nasional, mulai dari UU No. 1/1970 tentang Keselamatan Kerja, UU No. 17/2023 tentang Kesehatan, hingga PP No. 88/2019 tentang Kesehatan Kerja, menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat, termasuk bagi kesehatan mental pekerja.

Beban Ganda dan Kepemimpinan Buruh Perempuan


Tantangan besar muncul ketika buruh perempuan memutuskan aktif dalam serikat buruh. Begitu, selesai jam kerja di pabrik, sebagian besar mereka masih harus menjalankan pekerjaan domestik: memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, merawat orang tua, atau memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk istirahat sering kali terpakai untuk kerja perawatan yang hingga kini masih lebih banyak dibebankan kepada perempuan. Dalam situasi itu, menghadiri rapat organisasi, pendidikan, atau mengorganisir anggota bukan pilihan yang mudah. Dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran bahkan terkadang harus menghadapi stigma negatif.

Suasana diskusi di sekretariat FSB SEMAR, Grobogan – Jawa Tengah. (Foto oleh Tim media FSB SEMAR, 27 Juli 2026)


Di tenggah situasi yang tidak mudah itu, saya menyaksikan kepemimpinan buruh Perempuan lahir dari akar rumput. Sebut saja namanya Wilda, dia adalah buruh Perempuan PT Pungkook yang saat ini menjadi ketua SP PUBG di Grobogan. Bagi Wilda, memulai perjuangan tidak seperti membalik telapak tangan. Saat awal membangun serikat, ia sempat di seret oleh satpam ke luar area produksi begitu Surat Pencatatan Serikat keluar. Namun ia tak gentar. Keteguhannya mengorganisir buruh terus ia lakukan dengan tenang dan penuh keyakinan. Dan Wilda membuktikan komitmen juangnya, hingga saat ini memimpin 1.900 anggota. Tekadnya bulat. Buruh perempuan yang berorganisasi dan berkesadaran kelas adalah sumber kekuatan.


Bergeser ke Kendal, saya berjumpa dengan buruh perempuan bernama Lina. Senada dengan Wilda yang juga seorang ibu, Lina memimpin pembangunan serikat buruh di PT Sitoy Leather Products yang berafiliasi dengan FSB SEMAR. Pengalamannya berorganisasi di pabrik sebelumnya, membuatnya terpanggil. Ia tidak bisa berpangku tangan saat melihat rekan kerjanya menerima kekerasan oleh atasan di tempat kerjanya. Dengan sikap berani membela rekan kerjanya inilah, ia menjadi sentral perhatian buruh untuk mendapatkan informasi hukum perburuhan dan hak-hak yang mesti diperjuangkan.


Kepemimpinan Wilda dan juga Lina tidak lahir dari dinamika keseharian yang mudah. Ia tumbuh dari pergulatan peliknya membagi waktu tenaga, dan pikiran dalam keseharian di pabrik, di rumah, dan di masyarakat. Mereka memilih tetap belajar setelah bekerja seharian. Mereka memilih untuk berani bernegosiasi kepada anggota keluarga untuk berbagi pekerjaan domestik agar tetap bisa ikut pendidikan serikat. Ya, mereka memilih tetap berdiri di barisan perjuangan. Kepemimpinan seperti inilah yang sesungguhnya menjadi kekuatan gerakan buruh. Bukan kepemimpinan yang dibangun di atas privilege, melainkan kepemimpinan yang lahir dari pengalaman hidup, kerja keras, dan ketekunan untuk terus bertumbuh, karena percaya bahwa tidak ada perubahan yang lahir dari perjuangan seorang diri.

Peran Organiser laki-laki dalam Mendorong Kepemimpinan Buruh Perempuan


Yang membuat saya semakin optimis adalah bahwa kepemimpinan perempuan di FSB SEMAR tidak tumbuh sendirian. Ia juga didukung oleh cara pandang anggota laki-laki yang melihat kesetaraan sebagai bagian dari budaya organisasi. Dalam satu diskusi, seorang kawan laki-laki menyampaikan analogi sederhana tetapi mengena. Menurutnya, organisasi adalah ruang belajar, layaknya sebuah sekolah. Di dalam sekolah ada murid laki-laki dan perempuan. Karena itu, jika yang menjadi ketua kelas adalah perempuan, maka seluruh murid seharusnya mendukungnya agar kelas dapat berjalan dengan baik. Kepemimpinan, baginya, tidak ditentukan oleh jenis kelamin, tetapi oleh kemampuan, tanggung jawab, dan komitmen untuk berdiri bersama kepentingan anggota, dan perempuan juga mempunyai tiga hal itu.

Pasca diskusi di kost buruh berempuan, Kendal – Jawa Tengah. (foto oleh Tim Dokumentasi, 26 Juli 2026)


Bagi saya, cara pandang seperti ini perlu terus ditumbuhkan dalam gerakan buruh. Membangun kepemimpinan perempuan bukan hanya mendorong lebih banyak perempuan tampil memimpin, tetapi juga membangun kesadaran di kalangan laki-laki bahwa kesetaraan adalah fondasi organisasi yang demokratis. Ketika perempuan dan laki-laki saling mendukung sebagai sesama pejuang kelas pekerja, organisasi tidak hanya melahirkan pemimpin yang lebih beragam, tetapi juga memperkuat solidaritas yang menjadi ruh gerakan buruh. Sebab organisasi yang benar-benar menjadi sekolah perjuangan bukanlah organisasi yang mempertanyakan siapa yang memimpin berdasarkan jenis kelaminnya, melainkan organisasi yang mendukung siapa pun yang mengabdikan diri untuk kepentingan kelas pekerja.


“Tidak butuh teori yang tinggi untuk mendorong kepemimpinan Perempuan, cukup pakai logika saja. Jika anggota mayoritas perempuan, sebaik-baiknya ketuanya perempuan. Karena perempuanlah yang lebih paham apa yang dialami, dirasakan dalam keseharian, termasuk mimpi-mimpi kemerdekaan bagi perempuan. Sesederhana itu” Ujar Nova Ketua Umum FSB SEMAR dalam satu diskusi di sekretariat. Nova menerapkan pemahaman dia dalam aktivitas keseharian kerja di federasi, termasuk dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis dalam organisasi, bahwa suara perempuan mesti didengarkan, dipertimbangkan dan dijadikan bahan analisa dalam pengambilan keputusan.


Bagi saya, inilah pelajaran paling berharga dari perjumpaan bersama FSB SEMAR. Gerakan buruh tidak hanya bertahan karena memiliki tuntutan yang benar, tetapi karena terus melahirkan perempuan-perempuan yang percaya pada kekuatan massa yang terorganisir. Mereka memahami bahwa perubahan tidak datang dari kebaikan hati perusahaan ataupun belas kasihan negara. Perubahan lahir ketika kelas pekerja membangun kesadaran kelasnya, memperkuat solidaritas, dan berjuang bersama sebagai satu kekuatan kolektif.

Membangun Ekonomi Mandiri Kelas Pekerja


Selain memperkuat organisasi, saya juga melihat semangat kawan-kawan FSB SEMAR untuk membangun kemandirian ekonomi melalui koperasi pekerja. Kesadaran ini lahir dari pengalaman bahwa perjuangan buruh tidak cukup hanya dilakukan di meja perundingan atau melalui aksi massa. Gerakan buruh juga perlu membangun fondasi ekonomi yang dapat menopang kehidupan anggotanya, selain iuran anggota. Karena itulah mereka mencoba mengembangkan koperasi konsumen yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari anggota sekaligus memperkuat solidaritas ekonomi di dalam organisasi.


Perjalanan tersebut ternyata tidak mudah. Koperasi sembako yang mereka rintis belum dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Salah satu kendala utamanya adalah sulitnya memperoleh pasokan barang secara langsung dari pemasok tingkat pertama (tier 1), sehingga harga yang diperoleh belum mampu bersaing dan koperasi belum memberikan manfaat ekonomi yang cukup bagi anggota. Dalam kondisi tersebut, mereka memilih menghentikan sementara operasional koperasi, bukan karena menyerah, tetapi karena menyadari bahwa organisasi perlu belajar kembali mengenai model koperasi konsumen yang paling sesuai dengan kebutuhan anggotanya.


Keputusan itu justru menunjukkan kedewasaan organisasi. Tidak semua ikhtiar harus langsung berhasil. Yang lebih penting adalah keberanian untuk melakukan evaluasi, mengakui keterbatasan, dan terus mencari pola atau bentuk yang lebih tepat. Gerakan buruh memang tidak hanya belajar tentang hubungan industrial, tetapi juga belajar mengelola ekonomi bersama. Sebab membangun koperasi bukan sekadar membuka usaha, melainkan membangun kepercayaan, memperkuat partisipasi anggota, dan menemukan cara agar ekonomi benar-benar menjadi alat yang memperkokoh organisasi.


Saya belajar bahwa membangun serikat buruh mengajarkan kita memperjuangkan hak. Membangun koperasi mengajarkan kita memperjuangkan kemandirian. Keduanya tidak selalu berhasil dalam sekali langkah, tetapi keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran, pendidikan, dan kepercayaan pada kekuatan kolektif.

Harapan Selalu Hadir


Perjumpaan dengan kawan-kawan FSB SEMAR mengingatkan saya bahwa membangun gerakan buruh tidak pernah berjalan di jalan yang rata. Masih ada hak-hak buruh perempuan yang belum sepenuhnya dihormati, masih ada kekerasan verbal yang melukai martabat pekerja, masih ada beban ganda yang membatasi ruang perempuan untuk berorganisasi, dan masih ada ikhtiar membangun koperasi yang belum menemukan bentuk terbaiknya. Namun, di balik semua itu, saya melihat kekuatan yang sesungguhnya: yaitu keberanian untuk terus belajar, mengevaluasi diri, saling menguatkan, dan tidak berhenti mencari jalan agar organisasi semakin mampu menjawab kebutuhan anggotanya.

Pengurus FSB SEMAR bersama buruh PT Pungkook, Grobogan – Jawa Tengah (Foto oleh Tim Dokumentasi, 27 Juli 2026)


Pengalaman itu meneguhkan keyakinan saya bahwa serikat buruh bukan sekadar alat untuk memperjuangkan upah atau menyelesaikan perselisihan hubungan industrial. Serikat buruh adalah sekolah perjuangan yang membentuk kesadaran, melahirkan kepemimpinan, menumbuhkan solidaritas, dan mengajarkan bahwa perubahan tidak pernah lahir dari perjuangan individu. Di dalamnya, perempuan dan laki-laki belajar berjalan berdampingan, saling mempercayai, dan membangun organisasi yang semakin demokratis, setara, inklusif, dan berpihak kepada kehidupan kelas pekerja.


Pada akhirnya, yang membuat sebuah serikat buruh tetap hidup bukan hanya banyaknya kemenangan yang pernah diraih, melainkan banyaknya orang yang tetap percaya bahwa berjuang bersama selalu lebih kuat daripada bertahan sendirian.


Get The Union Briefing

One clear organizing tactic, one bargaining insight, and one worker-rights resource every week.

Subscribe